Terancam Mangkrak, Pelabuhan Tanjung Adikarto Jadi Tempat Memancing dan Piknik

Seorang warga memanfaatkan Pelabuhan Tanjung Adikarto di Karangwuni, Wates, Kulonprogo sebagai tempat memancing kepiting, Senin (3/4/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
01 Mei 2017 10:21 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Pelabuhan Tanjung Adikarto belum juga diselesaikan

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto telah menjadi pekerjaan rumah yang diwariskan setiap tahun. Bukannya rampung dan beroperasi sebagai pelabuhan ikan, sejumlah bangunan dan fasilitas pendukung yang ada kini justru terancam mangkrak.

Andi menaruh seekor ikan kecil pada alat perangkap kepiting yang dia bawa di kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarto, Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kulonprogo, Senin (3/4/2017). Sebelumnya, dia sudah mengikatkan tali alat perangkap pada tiang besar setinggi satu meter yang mestinya jadi tiang penambat kapal.

“Mau mancing kepiting jawa,” begitu katanya sambil tetap fokus dengan alat perangkapnya.

Andi menolak disebut nelayan. Dia hanya warga yang tinggal tidak jauh dari pelabuhan, yaitu Dusun Keboan, Karangwuni, Wates. Baginya, tidak masalah sering-sering main ke pelabuhan untuk memancing kepiting. Selain mengisi waktu luang, hasilnya juga bisa dijual ke pasar sehingga menambah penghasilan. Dia rajin datang menjelang tengah hari untuk memasang belasan alat perangkap. Dia biasanya lalu pulang dan bakal kembali untuk mengecek hasil tangkapan setelah tiga jam kemudian.

Pria 32 tahun itu tidak butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaan tentang nasib proyek pelabuhan. Dia mengaku mendapatkan informasi jika pembangunan dilanjutkan pada 2018 mendatang. Meski begitu, dia pun tidak begitu yakin dengan hal itu mengingat masa pembangunan yang terus molor. Jadi ketimbang mangkrak begitu saja, fasilitas yang ada lebih baik dimanfaatkan semaksimal mungkin. Memancing kepiting adalah salah satunya. “Bukan cuma saya [yang memancing kepiting]. Ada sekitar lima orang,” ujar Andi.

Pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto telah berjalan lebih dari 10 tahun. Proyek itu sudah menelan anggaran hingga Rp540,22 miliar dari alokasi APBD DIY dan APBN. Minggu (2/4/2017), anggota Komisi B DPRD DIY Aslam Ridlo menyebutkan 83,91 persen dari aset yang ada itu telah dalam kondisi rusak berat. Nilai aset yang rusak itu pun tidak tanggung-tanggung, yaitu mencapai Rp453,2 miliar. Kerusakan itu diantaranya terjadi pada fasilitas pemecah ombak, alur pelabuhan dan jalan lingkar, bengkel dan docking pelabuhan, hingga pos jaga pintu.

Tahun 2015 lalu, gereget pembangunan barangkali masih bisa terlihat dari banyaknya alat berat yang melakukan pengerukan pasir di kolam pelabuhan. Namun, pemandangan itu sudah tidak ada lagi. Pengerukan yang saat itu putus kontrak dalam posisi ketercapaian 71,80 persen kini berganti dengan aktivitas rekreasi.

Pelabuhan Tanjung Adikarto bukanlah kawasan yang susah diakses masyarakat. Tidak ada pertanyaan atau pemeriksaan macam-macam yang bakal dilakukan oleh petugas keamanan di pintu masuk. Andi hanya satu dari sekian orang yang setiap hari berdatangan ke sana untuk memanfaatkan pelabuhan dengan berbagai cara. Bukan cuma memancing kepiting, tetapi juga berdagang makanan, jalan-jalan, piknik, dan tentunya berfoto narsis. Sejumlah fasilitas yang ada juga bisa digunakan oleh warga sekitar, seperti gedung serba guna dan musala.

Beberapa waktu lalu ketidakjelasan operasional pelabuhan akhirnya memotivasi warga Karangwuni untuk merintis obyek wisata alternatif. Mereka membangun tempat parkir dan menanam cemara udang di sebelah selatan pelabuhan secara swadaya. Saat musim libur lebaran 2016, warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Manunggal Adikarta berinisitatif menyewakan perahu untuk mengelilingi kolam pelabuhan hingga muara Sungai Serang.

Ketua Pokdarwis Manunggal Adikarta, Tri Sukarno mengatakan, warga hanya ingin mengoptimalkan manfaat pembangunan pelabuhan bagi masyarakat. Namun, dia tidak ingin gegagah. Sebelum mengembangkan usaha menjadi lebih besar, pihaknya berusaha mendapatkan izin dan persetujuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan DIY.

Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, Krissutanto membenarkan adanya geliat pengembangan wisata di kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarto. Dia sendiri berpendapat kegiatan wisata tidak akan mengganggu operasional pelabuhan apabila dikelola secara tepat. “Itu baru diproses [izinnya] di Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Kami juga menunggu perkembangannya. Kalau niat maju, nanti kita kawal bareng,” kata Krissutanto.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo, Sudarna mengatakan, paska penghentian pengerukan pada 2015 lalu, pemerintah melakukan kajian ulang terhadap proyek Pelabuhan Tanjung Adikarto di tahun 2016. Berdasarkan informasi yang dia terima dari provinsi, pembangunan ditargetkan kembali berjalan pada 2018 mendatang. Tahun ini, pemerintah fokus pada pengusulan anggaran.

Sudarna pun berharap pembangunan pelabuhan dapat segera selesai agar para nelayan bisa melabuhkan kapal-kapal mereka di sana. “Infonya, pembangunannya itu melanjutkan break water sekaligus pengerukan,” ungkap Sudarna.