Jalan Ambles, Warga di Piyungan Gotong Royong Buka Jalan Baru

Ruas jalan yang menghubungkan Dusun Ngijo dengan Dusun Kedungwalikukun di Banyakan, Piyungan yang ambles sekitar dua bulan lalu kini diberi pembatas berupa bambu. Foto diambil Sabtu (6/5/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI - Harian Jogja)
08 Mei 2017 00:21 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Ruas jalan yang menghubungkan antara Dusun Ngijo dan Dusun Kedungwalikukun di Banyakan, Piyungan ambles

 
Harianjogja.com, BANTUL--Ruas jalan yang menghubungkan antara Dusun Ngijo dan Dusun Kedungwalikukun di Banyakan, Piyungan yang ambles sekitar dua bulan yang lalu akhirnya dapat dilewati kembali.

Secara swadaya, warga bergotong-royong membuka jalan. Mereka memahat batuan vulkanik secara manual dengan menggunakan linggis dan alat lainnya.

Salah satu warga Dusun Ngijo, Painah mengatakan penyebab amblesnya jalan penghubung tersebut disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi beberapa bulan yang lalu. Padahal jalan tersebut berada di tebing yang curam, sehingga air sangat mudah turun.

Painah juga menambahkan saat ambles, akses transportasi cukup terganggu. Namun kini, warga yang memiliki truk sudah bisa melewati jalan tersebut.

"Jalannya memang pas di tikungan. Pas ambrol, gunung sisih wetan dikepras [saat ambrol, gunung yang berada di timur dibelah untuk dijadikan jalan baru]," ujar dia kepada Harianjogja.com, Sabtu (6/5/2017).

Menurutnya, biasanya warga bergotong royong untuk membuka jalan tersebut setiap hari Minggu. Meskipun demikian, setiap hari ada saja warga secara individu yang bekerja menatah batu. Biasanya hal tersebut dilakukan warga yang memang butuh jalan tersebut cepat digunakan.

Inisiatif warga tersebut juga disampaikan oleh Lurah Desa Sitimulyo, Juweni. Ia menjelaskan paska amblesnya jalan tersebut, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebenarnya sudah datang untuk meninjau. Namun karena berada di tikungan yang curam dan strukturnya yang berupa batuan, maka pembukaan jalan hanya dapat dilakukan secara manual.

"Ya cuma bisa dipahat saja batunya, manual, tidak bisa pakai alat berat. Untungnya masyarakat sana itu semangat untuk kerja bakti," ucap dia.