Cerita Mbah Ponco tentang Aktingnya di Film "Ziarah" yang Menyabet Nominator Aktris Terbaik Festival Film ASEAN 2017

Mbah Ponco mencabuti rumput yang berada di kebun yang ada di depan rumahnya di Dusun Batusari, Kampung, Ngawen, Minggu (7/5/2017). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
08 Mei 2017 11:55 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Sutiyem atau akrab disapa Mbah Ponco, warga Dusun Batusari, Kampung, Ngawen tidak pernah menyangka akan menjadi seorang bintang film.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Sutiyem atau akrab disapa Mbah Ponco, warga Dusun Batusari, Kampung, Ngawen tidak pernah menyangka akan menjadi seorang bintang film. Bahkan berkat aktingnya dalam film Ziarah, ia masuk dalam nominasi best aktris dalam Festival Film ASEAN (AIFFA) 2017.

Senyum langsung mengembang dari raut muka Mbah Ponco,95, saat sejumlah awak media mendatangi rumahnya di Dusun Batusari, Desa Kampung, Ngawen. Tak ada perasaan takut saat sejumlah orang asing memasuki perkarangan rumah yang berbentuk limasan itu.

Di usianya yang telah senja dan dengan kondisi fisik yang tak lagi sempurna karena kulit yang keriput dan kondisi tubuh membungkuk, ia masih terus bersemangat. Satu persatu pertanyaan pewarta dijawab dengan lancar.

Bahkan di satu kesempatan, ia sempat mempertunjukan satu adegan seperti yang ada dalam film berjudul Ziarah garapan Sutradara BW Purba Negara. “Ini yang saya lakukan dalam film,” kata wanita yang bernama asli Sutinem ini sambil mencabuti rumput di kebun yang ada di depan rumah, Minggu (7/5/2017).

Menjadi pemeran film tidak pernah ada di angan-angan Mbah Ponco. Ia mengaku sejak kecil sebagai gadis pemalu dan sangat penurut terhadap orang tua. Saking nurutnya, ia jarang keluar rumah bahkan untuk sekadar melihat hiburan rakyat.

“Suatu ketika ada pertunjukan ketropak di desa. Waktu itu paman saya menjamin kalau sampai dimarahi kakek akan bertanggungjawab, tapi saya tetap tidak berani berangkat nonton karena kakek tidak memperbolehkan,” kenang Mbah Ponco sewaktu kecil dengan aksen Bahasa Jawa yang kental.

Masa muda yang kurang pengalaman ini tidak menghalangi performa dalam memerankan Mbah Sri dalam film Ziarah. Ia mengungkapkan, pengalaman hidup dalam keadaan perang menjadi modal tersendiri.

Dia pun masih ingat bagaimana mencekamnya suasana saat perkarangan rumah terkena bom dari pasukan Jepang. Pengalaman ini dijadikan acuannya untuk menunjukan totalitas berakting dalam film yang berlatar perang dalam agresi militer Belanda ini.

Selain itu, sambung dia, arahan dari sutrada ia ikut semua. Maklum sebagai rakyat jelata, sewaktu kecil tidak pernah mengenal tulisan. “Saya itu buta huruf. Jadi untuk main film harus ada pengarahan adegan sebelum pengambilan gambar. Pokonya setiap apa yang disuruh saya lakukan semua, misal pegang keris hingga tabur bunga di makam,” katanya.

Film Ziarah sendiri digarap di 2015 lalu. Di dalam film itu, Mbah Ponco memerankan tokoh Sri yang mencari makam suaminya yang tidak diketahui rimbanya karena hilang saat ikut berperang melawan penjajah. Pengambilan gambar film ini berlangsung dalam dua sesi.

Sesi pertama dilakukan selama empat hari, sedang di sesi kedua menggunakan durasi lebih lama yakni delapan hari. “Di film ini saya diajak keliling-keliling mulai dari Bayat, Rowo Jombor, Klaten; Imogiri hingga Kota Jogja,” katanya.

Dalam penggarapan film ini, ia paling mengingat saat harus beradu akting dengan menantunya ketiga Supriyanto. Dalam adegan ini, ia harus memberikan hormat kepada mantunya itu dengan Bahasa Jawa halus.

“Jujur awalnya enggak enak dan sempat tertawa hingga empat kali, sebab sebagai orang tuanya harusnya dia [Supriyanto] yang memberikan hormat. Namun karena ini arahan dari pembuat, jadi saya manut saja dan mengikuti apa yang diminta,” kenang ibu tujuh anak ini.