Wisata Budaya Jadi Daya Tarik DIY di Mancanegara

Deretan lampion menghiasi penggal Jalan Malioboro tepatnya di depan Malioboro Mall, Yogyakarta, Jumat (07/02/2014). Pemasangan lampu lampion khas itu merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek dan perayaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2014 yang akan akan berlangsung di kampung Ketandan pada 10-14 Februari 2014. (JIBI/Harian Jogja - Desi Suryanto)
09 Mei 2017 23:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Sebanyak 60% orang datang ke Jogja karena tertarik pada budaya

 
Harianjogja.com, JOGJA-Keberadan http://cms.solopos.com/?p=814856">New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo digadang-gadang menjadi pintu masuk baru bagi wisatawan mancanegara (wisman). Salah satu daya tariknya adalah wisata budaya Jogja yang kental.

Staf Ahli Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata Hari Untoro Drajat mengatakan, selama ini pintu masuk wisman ke Indonesia masih berada di Bali, Batam, dan Jakarta. Ketiganya menyumbang 90% dari total kedatangan wisman ke Indonesia.

Sementara itu, 60% orang datang ke Jogja karena tertarik pada budaya. Oleh sebab itu, pengalaman berwisata budaya di Jogja perlu ditingkatkan agar semakin menarik wisatawan asing untuk datang ke Jogja. Harapan ke depan pun Jogja menjadi pintu masuk berikutnya.

Pengalaman budaya tidak hanya menyangkut destinasi obyek wisata tetapi juga menyangkut kehidupan sosial masyarakatnya, seperti pengalaman kulinernya. “Jogja itu menarik karena branding culture-nya kuat dan sangat diminati. Semakin dilestarikan semakin menarik. Potensi kecil seperti makanan bisa dimunculkan,” katanya di Grand Mercure Hotel, belum lama ini.

Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata (Asita) DPD DIY Udhi Sudiyono mengatakan, http://m.harianjogja.com/?p=675036">spot-spot budaya perlu ditampilkan lagi agar wisman mudah saat ingin menikmati salah satu budaya Jogja. Pertunjukan budaya yang banyak juga memudahkan wisman untuk memilih.

“Kalau sekarang baru ada Ramayana dan Wayang Kulit. Pertunjukan dolanan anak kalau malam Minggu atau hari libur perlu diadakan. Begitu juga dengan pertunjukan gamelan dan kethopraknya dan pertunjukan lain yang menampilkan budaya Jawa,” katanya, Senin (8/5/2017).

Udhi mengatakan, keberadaan NYIA menjadi penghubung wisata di Jawa. Hal ini penting untuk menjadikan Jogja menjadi lebih dikenal. Ia pun berharap agar bandara yang baru tersebut memiliki sistem modern dan terintegrasi sehingga wisman merasa nyaman.

Bagi mereka yang transit (transit passanger) juga tidak mengalami kesulitan meski hal ini menjadi tantangan bagi Pemerintah DIY untuk menyiapkan obyek wisata yang menarik yang tidak terlalu jauh dari bandara.

Peneliti pariwisata Jogja dari Universitas Sanata Dharma Ike Janita Dewi mengatakan, upaya penguatan daya tarik wisata di bidang budaya bisa dilakukan dengan melakukan reinterpretasi heritage yang sudah ada, misalnya dengan penguatan narasi atau story telling, penguatan packaging dan programming, dan penggunaan teknologi untuk memperkuat destinasi.

“Misal dengan membuat permainan light and sound di keraton atau museum-museum di DIY,” katanya.

Menurutnya, bandara baru akan menjadi peluang bagi DIY jika dikembangkan destinasi baru atau merevitalisasi destinasi yang sudah ada. Berbagai inovasi dan penguatan data tarik wisata mutlak harus dilakukan agar wisatawan yang datang tidak lari ke luar DIY mengingat lokasi bandara berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah.