BULOG DIY : Demi Menekan Harga Pangan, Mata Rantai Distribusi Dipotong

Kepala Perum Bulog Divre DIY Miftahul Adha (berdiri) mengisi Sharing Bisnis Perum Bulog Divre DIY dengan Mitra dan Calon MitraBisnis "Maju Bersama Meraih Prestasi Gemilang" dalam rangka ulang tahun Bulog ke-50, di kantor Bulog Kotabaru, Rabu (10/5/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
11 Mei 2017 21:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Bulog DIY mengembangkan kemitraan dari hulu ke hilir.

Harianjogja.com, JOGJA -- Perum Bulog Divre DIY terus mengembangkan kemitraan dari hulu ke hilir. Tujuannya memotong mata rantai distribusi bahan pangan agar tidak terjadi lonjakan harga sampai di tangan konsumen terakhir.

Kepala Perum Bulog Divre DIY Miftahul Adha mengatakan dari hulu, Bulog bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melakukan pengembangan produksi. Petani yang panen padi bisa langsung disetorkan kepada Lumbung Pangan Desa, untuk selanjutnya langsung didistribusikan ke Bulog. Selain itu ada pula kerjasama di bidang sarana produksi pertanian.

Sementara di hilir, Bulog bekerja sama dengan Sahabat RPK (Rumah Pangan Kita), sebuah agen Bulog yang menjual komoditas dari Bulog dan dikelola oleh masyarakat.

“Harapannya dengan kerjasama dari hulu sampai hilir itu, bisa memotong rantai distribusi,” katanya seusai acara Sharing Bisnis Perum Bulog Divre DIY dengan Mitra dan Calon Mitra Bisnis "Maju Bersama Meraih Prestasi Gemilang" dalam rangka ulang tahun Bulog ke-50, di kantor Bulog Kotabaru, Rabu (10/5/2017).

Selama ini, komoditas bahan pangan masih melalui rantai distribusi yang panjang sehingga konsumen terakhir mendapatkan harga yang tinggi. Untuk beras misalnya, sebelum sampai pada tangan konsumen terakhir, beras terlebih dulu diproduksi petani, masuk ke pengepul, lalu pedagang, dilanjutkan pedagang perantara, dan baru masuk konsumen terakhir.

“Sekarang kita potong rantai distribusi sehingga mendekatkan produsen ke konsumen,” tuturnya.