INVESTASI JOGJA : Hotel Pemicu Ketimpangan Ekonomi

HarianJogja/Gigih M. HanafiDua anak seusia SD bermain layangan di jalur Kereta Api daerah Lempuyangan, Jogja, Rabu (18 - 2). Lahan bermain anak sangat minim karena tergeser oleh pembangunan hotel serta kawasan perumahan yang tinggi, Padahal anak membutuhkan taman bermain sebagai pembangun komunikasi sosial anak.
27 Mei 2017 01:22 WIB Sunartono Jogja Share :

Investasi Jogja dikembangkan ke pedesaan

Harianjogja.com, JOGJA -- Pemda DIY mendorong investasi untuk bisa masuk ke pedesaan agar tidak terpusat di perkotaan. Pembangunan hotel maupun restoran yang lebih banyak menyasar perkotaan diakui menjadi salahsatu penyebab adanya ketimpangan ekonomi di DIY.

Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto menjelaskan ketimpangan di DIY sebenarnya terjadi karena adanya perbandingan antara desa dengan kota. Pembangunan di perkotaan di DIY terjadi secara besar-besaran dengan efek yang besar pula, berbeda dengan pedesaan yang tidak sebanding sehingga tidak memberikan efek signifikan.

Ia mengakui keberadaan hotel maupun restoran yang semakin banyak di Kota Jogja menjadi penyumbang terjadinya kesenjangan antara kaya dengan miskin. Mengingat, sebagian besar karyawan hotel merupakan kalangan menengah ke atas dengan jarang sekali merekrut masyarakat arus bawah seperti pedesaan. Menurut Tavip, digelontornya dana desa hingga miliaran rupiah sekalipun tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap problem ketimpangan ekonomi.

"Dana desa itu daya dorongnya kecil sekali. Sederhananya begini, kalau hotel restoran dibangun langsung menimbulkan efek, lapangan kerja, wisata, hubungan jasa dan lainnya. Dana desa ada kegiatan misal Rp1 miliar, Rp2 miliar, pengaruhnya, tidak berpengaruh untuk sekitarnya. Lapangan kerja juga tidak signifikan," ungkap Tavip saat ditemui Harianjogja.com di kantornya, Kompleks Kepatihan, Jumat (26/5/2017).