TRANSPORTASI TRADISIONAL : Utamakan Kenyamanan Penumpang, Tarif Becak Akan Diatur

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoSejumlah wisatawan menggunakan jasa becak kayuh untuk mengunjungi kawasan wisata Keraton Ngayogyakarta dan Malioboro seperti saat terlihat di simpang empat Kantor Pos Besar, Yogyakarta, Minggu (23/02 - 2014). Seiring dibukanya kembali penerbangan dan sejumlah objek wisata di Yogyakarta pasca letusan Gunung Kelud, kegiatan pariwwata di Yogyakarta kembali pulih. Yogyakarta tidak lagi berselimut abu vulkanik.
30 Mei 2017 12:22 WIB Sunartono Jogja Share :

Transportasi tradisional becak kan ditata sedemikian rupa.

Harianjogja.com, JOGJA -- Pemda DIY menyusun konsep penataan becak tradisional sebagai becak wisata sebagai tindaklanjut dari Perda DIY No.5/2016 tentang moda transportasi tradisional becak dan andong. Sebanyak 15 desain becak telah ditentukan dari hasil seleksi peserta lomba. Desain tersebut akan dipakai disetiap zonasi becak tradisional.

Baca Juga : http://m.harianjogja.com/?p=820697">TRANSPORTASI TRADISIONAL : Sebelum Didesain Ulang, Becak akan Diregistrasi & Diidentifikasi

Kepala Pelaksana Tugas Dinas Perhubungan DIY Gatot Saptadi menyampaikan tarif juga akan dibahas lebih lanjut sehingga ada penentuan tarif khusus. Harapannya, masyarakat yang menggunakan jasa becak tradisional bukan sekadar ingin menuju ke tempat sesuatu, tetapi juga dapat menikmati lebih nyaman naik becak.

"Untuk wisata tarifnya mungkin boleh tinggi. Bukan sekadar jauh dekat, pendek tetapi untuk menikmati dengan becak desain bagus," ujarnya, Senin (29/5/2017)

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono menambahkan, adanya desain becak di Jogja akan mewakili kelokalan Jogja, berbagai potensi budaya diharapkan bisa terefleksikan dengan becak Jogja. Sehingga citarasa Jogja bisa ditertampung dalam becak tradisional tersebut. Umar mengakui sudah melihat 15 desain yang terpilih. Dari 15 desain itu, nantinya akan dikerucutkan lagi sesuai dengan jumlah zonasi yang saat ini dalam proses kajian Dinas Perhubungan DIY.

"Proyeksi desain, ramah lingkungan, warnanya Jogja ada bregodo, jatayu, Merapi. Nanti, tidak hanya sekedar becak ada tempelan bregodo tetapi ada edukasi. Sopir becak bisa menjelaskan terkait desain becaknya. Pengaturannya lebih komprehensif," ucap dia.

Penataan itu, kata Umar, direncanakan menggunakan dana keistimewaan. Namun belum diketahui jumlahnya. Selain itu baru akan dibahas secara detail, terkait proses penataan hingga memunculkan jumlah anggaran yang dibutuhkan setiap satu unit becak tradisional. "Entah diberikan gratis atau bagaimana belum sampai di sana, mungkin ada beberapa juga yang bisa dimanfaatkan tinggal dimodifikasi, itu juga akan dibahas lebih lanjut," kata dia.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta optimistis dengan desain khusus becak tradisional akan meningkatkan antusias wisatawan untuk menggunakan jasa becak. Apalagi ada zona-zona khusus dengan desain yang berbeda-beda. Wisatawan di Kota Jogja yang menggunakan becak tradisional memang lebih banyak daripada andong. Bahkan keberadaan becak di Jogja masih bisa dipertahankan dibandingkan di daerah lain.

"Kami juga ingin memberikan fasilitas kepada tukang becak agar bisa berbahasa Inggris, jadi ke depan akan ada pembinanaan agar bisa berbahasa asing," tegasnya.