PERIKANAN GUNUNGKIDUL : Tangkapan Tongkol Capai 4 Kuintal, Harga Jual Justru Anjlok

Sejumlah nelayan di Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari sedang mengambil hasil tangkapan ikan tongkol hitam dari jaring. Minggu (28/5/2017) (IST - dok. SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul)
30 Mei 2017 08:22 WIB Irwan A Syambudi Gunungkidul Share :

Perikanan Gunungkidul kini tengah panen tongkol.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Setelah mengalami peceklik sepanjang awal 2017 ini, kini Nelayan Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari dapat sedikit sumringah. Pasalnya kini panen hasil tangkapan ikan terutama jenis tongkol cukup melimpah.

Baca Juga : http://m.harianjogja.com/?p=820594">PERIKANAN GUNUNGKIDUL : Gelombang Turun, Nelayan Panen Tongkol
Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul, Marjono menilai hasil tangkapan tahun ini juga tak kalah banyak dengan tahun lalu. Pada Minggu malam kemarin, sebanyak 35 kapal nelayan yang melaut dari Pantai Baron, rata-rata setiap kapal memperoleh ikan tongkol hitam sebanyak empat kuintal. Tangkapan itu belum seberapa, pasalnya kata dia ada sebagian nelayan yang sampai kesulitan membawa hasil tangkapannya ke darat.

Namun dengan hasil tangkapan melimpah tidak lantas memberikan hasil penjualan yang melimpah pula. Sebab dari harga normal Rp18.000- Rp20.000 per kilogram, kini mereka hanya dapat menjual Rp5.000 hingga Rp10.000 ke pengepul. Melimpahnya tangkapan memang membuat harga ikan dipasaran menjadi anjlok.

“Tapi ya itu lumayan buat nelayan, karena dari kemarin paceklik ikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kabupaten Gunungkidul Rujimantoro menambahkan dari laporan yang diterimanya nelayan pantai selatan beberapa hari terakhir memang panen ikan. Tidak hanya tongkol hitam saja yang dipanen, namun beberapa jenis ikan lainnya seperti tengiri, maleman dan beberapa jenis ikan lainnya.

Dia berharap panen ikan ini akan berlangsung lama dan harga ikan di pasaran tetap stabil, sehingga hal itu dapat menguntungkan bagi nelayan. “Setelah beberapa bulan banyak yang tidak dapat melaut karena gelombang tinggi, kini sudah mulai panen ikan,” kata Rujimanto.