Jembatan Kretek Dua Bakal Diimbangi Pengembangan Wisata
Salah satu pekerja menggoreng pare untuk dijadikan keripik di rumah produksi sekaligus showroom milik Sri Endah Kurniawati, Minggu (17/12/2017). (Harian Jogja/ Sekar Langit Nariswari)
Sedikitnya 32 jenis keripik sudah dihasilkan oleh Sri Endah Kurniawati dalam 17 tahun berwirausaha.
Harianjogja.com, SLEMAN-Sedikitnya 32 jenis keripik sudah dihasilkan oleh Sri Endah Kurniawati dalam 17 tahun berwirausaha. Keripik pare dengan citarasa pahitnya menjadi andalan dari cemilan yang sudah berhasil menembus berbagai toko modern ini.
Keripik yang diproduksi di kediaman pribadinya di Sorogenen, Kalasan ini terdiri dari veriasi pare, tempe, tempe gembus, jamur, terong, bayam, dll. Adapula peyek dan emping jagung sebagai hasil olahan lainnya.
"Bikin pertama keripik bayam, tapi sekarang penjualan tertinggi pare disusul jamur," terangnya kepada Harianjogja.com saat ditemui di sela-sela produksi, Minggu (17/12/2017).
Setiap harinya, paling tidak 10 kilogram pare diiris-iris, digoreng, dan diproses hingga menjadi keripik dengan berbagai rasa dan ukurannya. Sayuran yang dikenal dengan rasa pahitnya itu sukses diolah menjadi cemilan favorit banyak orang.
Uniknya, Endah tak menghilangkan rasa pahit yang menjadi kekhasan sayuran ini. Rasa pahitnya hanya dikurangi sehingga lebih bisa dikonsumsi. Kuncinya ialah saat proses pemanasannya sehingga bisa mengurangi kadar air dan rasa pahitnya.
Wanita berusia 47 tahun ini juga tak berahasia soal kunci pengolahan keripik parenya. "Tidak diapa-apain, yang penting saat menggoreng panas," ujar wanita berkerudung ini.
Disediakan dua rasa keripik pare yakni original dan pedas yang dijual dengan kemasan 140 gram dan harga Rp8.500. Sebelumnya, ia sempat memproduksi rasa balado keju namun penjualannya kurang bagus sehingga produksinya dihentikan.
Berbeda dari pelaku UMKM lain yang mengandalkan pasar mahasiswa, keripik ini paling banyak dibeli oleh mahasiswa. Pasar mahasiswa, tambah Endah, memang menjadi target utama.
Terbukti penjualannya mencapai puncak ketika mahasiswa banyak berada di Jogja. Sebaliknya, pembelinya menurun ketika masuk musim liburan kuliah. "Untuk camilan di kos mungkin ya, yang beli mahasiswa itu stabil sekali," terangnya.
Untuk mendapatkan bahan baku pare, ia biasa mendapatkannya di pasar dan sejumlah petani yang memasoknya langsung. Berbisnis sejak tahun 2000, Endah sudah punya sejumlah petani langganan yang memenuhi kebutuhan bahan bakunya.
Berbekal tiga pegawai, ia juga sudah memiliki omzet berkisar Rp30 sampai Rp50 juta. Jumlah ini didapat dari penjualannya semua jenis cemilan yang dihasilkannya.
Menurutnya, kunci dari mengembangkan bisnis cemilan ini ialah konsistensi baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dari segi bahan baku juga tidak boleh sembarangan guna menjaga rasa. Apalagi, banyak produksi serupa sehingga pembeli akan gampang beralih jika rasanya berubah. Kini, cemilannya sudah bisa didapatkan di 34 outlet di seluruh DIY baik besar maupun kecil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga emas Pegadaian hari ini Kamis 21 Mei 2026 turun. Emas Antam jadi Rp2,862 juta, UBS Rp2,797 juta, dan Galeri24 Rp2,756 juta.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Imigrasi Sulsel menemukan WNA asal Filipina dan Malaysia memakai KTP Indonesia untuk mengurus paspor RI di sejumlah daerah.
Prabowo Subianto menegaskan pemerintah siap memakai radar dan satelit untuk melacak aset ilegal serta memburu koruptor hingga bungker bawah tanah.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Kamis 21 Mei 2026 melayani rute Jogja dan Sleman dengan tarif Rp80.000 serta konektivitas antarmoda.