Impor Beras Melukai Hati Petani

15 Januari 2018 19:20 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Petani di Kulonprogo menyayangkan pemerintah melakukan impor beras

Harianjogja.com, KULONPROGO-Petani di Kulonprogo menyayangkan pemerintah melakukan impor beras sebesar 500 ton pada awal 2018.

Mereka berpendapat, seharusnya pemerintah fokus pada perbaikan teknik pertanian yang membantu petani meningkatkan produktivitas hasil tani.

Salah satu petani Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Aris Budi Santoso menuturkan, kendati pemerintah melakukan impor beras, petani tidak memiliki kekhawatiran berlebih, karena Kulonprogo sedang mengalami surplus beras. Namun ia meyakini, kekhawatiran atas datangnya beras impor bisa muncul dari para petani di daerah lain.

Harga beras yang mahal di Indonesia lebih disebabkan karena sawah yang gagal panen. Tidak semua wilayah panen secara bersamaan. Di sawahnya sendiri, tanaman padi miliknya diserang hama tikus dan hama wereng yang berkembang biak.

Sehingga, walau memasuki masa panen, hasil yang ia peroleh tidak maksimal. Di atas lahan seluas 1 hektare, ia seharusnya bisa memanen sampai 6,5 ton gabah kering sekali panen.

"Dibanding tahun lalu, hasil panen musim tanam pertama mengalami penurunan sampai 20 persen," terangnya, di Bulak Kenteng, Desa Jatisarono, Nanggulan Minggu (14/1/2018).

Untuk mengatasi hama, ia melakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida hayati maupun kimia. Ia meminta kepada pemerintah untuk bisa menerapkan betul aturan penanaman padi secara serentak, untuk memutus siklus kembang biak hama. Karena saat ini tidak semua petani mematuhi adanya peraturan bupati yang mengatur tentang musim tanam di Kulonprogo.

Petani Desa Jatisarono, Nanggulan, yaitu Wagimin juga menyatakan ketidak setujuannya terhadap impor beras yang dilakukan oleh pemerintah.

"Kalau ada impor, nanti harga beras petani jatuh," ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM) Kementerian Pertanian, Momon Rusmono menyatakan, impor dilakukan hanya untuk jenis beras tertentu, bukan IR64 yang kerap ditanam petani.

Beras impor akan digunakan untuk kebutuhan kesehatan, hotel, catering dan rumah makam. Ia menyatakan, tingginya harga beras pada saat ini disebabkan karena anomali cuaca. Selain itu, proses panen padi yang tidak bisa langsung didistribusikan sampai di pasar menjadi pemicu lainnya.

"Kondisi itu diperkirakan tidak akan berlangsung lama, panen raya selama tiga bulan yaitu Februari, Maret, April mendatang diyakini akan menormalkan kondisi beras di pasaran," ungkapnya.