Ikan Lokal Terancam Predator, WWI Tebar Benih di Sungai

27 Februari 2018 16:55 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Wild Water Indonesia (WWI) melakukan tebar 6.000 ekor benih ikan lokal ke sejumlah lokasi di Kulonprogo

Harianjogja.com, KULONPROGO-Wild Water Indonesia (WWI) melakukan tebar 6.000 ekor benih ikan lokal ke sejumlah lokasi di Kulonprogo.

Hal itu dilakukan untuk mengembalikan keberadaan ikan-ikan lokal yang mulai tergeser, akibat kehadiran ikan non native yang kebanyakan bersifat predator.

Ketua WWI Kulonprogo, Hary Hermanto menjelaskan, penebaran benih itu dilakukan di Taman Sungai Mudal, Kembang Soka, dan Kedung Pedut di Kecamatan Girimulyo.

Benih ikan lokal yang ditebar antara lain sepat, bethik, wader pari, keprek, lukas, cakul, uceng, tawes dan melem. Ia mengungkapkan, pergeseran ikan-ikan non native yang tidak terkendali, dikhawatirkan bisa menyebabkan kepunahan jenis-jenis ikan lokal.

“Salah satu bukti sudah tidak sehatnya perbandingan populasi ikan terlihat pada Sungai Serang. Jumlah populasi ikan jenis uceng berkurang, selain itu ikan kuhli loach sudah susah ditemukan,” kata dia, Selasa (27/2/2018).

Selain Sungai Serang, populasi ikan di Waduk Sermo juga perlu menjadi perhatian. Keberadaan ikan jenis red devil yang merupakan predator menjadi ancaman bagi ikan jenis lain. Walaupun ikan red devil cantik tetapi sifatnya rakus. Terlebih lagi, hampala dan ikan gabus (ikan lokal) yang sama-sama predator enggan memakan bibit red devil.

Selain red devil, jenis ikan lain yang biasanya merupakan ikan budidaya namun bersifat predator antara lain nila, bawal, patin, lele dumbo, dan ikan mas yang berada di perairan umum maupun sungai.

Keberadaan ikan-ikan pendatang ini, jika tak dikendalikan, maka akan menggeser populasi ikan-ikan lokal seperti cakul, tawes, mahseer/mangur/lempon, beles, bader, kepek, melem, deri, bethik, sepat, sidat, sili, tempel watu, dan ikan lokal lainnya.

Menyadari itu, perlu upaya untuk mengendalikan penyebaran ikan-ikan pendatang tadi. Meskipun demikian, pihaknya juga belum mengetahui cara efektif untuk mengendalikan populasi ikan-ikan pendatang tersebut.

Namun setidaknya, ada upaya yang bisa dilakukan. Misalnya dengan tidak menebar benih ikan predator atau pendatang di perairan umum maupun sungai. Upaya lainnya yaitu dengan melakukan pelestarian ikan-ikan lokal.

“Penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai efek buruk ikan pendatang. Penyebaran ikan tersebut dimulai dari faktor manusia yang tidak paham tentang ekosistem. Maksudnya baik, tapi langkahnya salah,” katanya.