Bibit Inpari Belum Diminati Petani

08 Maret 2018 05:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Penggunaan bibit padi inpari oleh petani masih rendah

Harianjogja.com, SLEMAN- Penggunaan bibit padi inpari oleh petani masih rendah. Hingga kini hanya 5% lahan pertanian di Sleman yang menggunakan bibit tersebut.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman Rofik Ardiyanto mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi adalah penggunaan bibit inpari.

"Varietas baru bibit padi terus dikembangkan. Ini untuk meningkatkan produksi karena untuk meningkatkan lahan sangat sulit," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (7/3/2018).

Salah satu varietas baru yang digunakan petani adalah jenis inpari 48. Produktivitasnya diklaim lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya. Termasuk yang biasa digunakan oleh petani saat ini, jenis ciherang.

"Produktivitasnya bisa mencapai 5,9-6,2 ton per hektare. Ini untuk inpari 48. Jenis lainnya Inpari 31-33 memang tahan wareng tapi tidak terlalu pulen, berbeda dengan Inpari 48," jelasnya.

Hingga kini, Dinas terus merayu para petani untuk menggunakan bibit Inpari 48. Upaya tersebut dilakukan secara perlahan agar petani dapat membuktikan lebih dulu kualitas bibit baru tersebut. Hal itu menurutnya terkait masalah kebiasaan dari para petani.

"Dulu petani biasa menggunakan jenis 64, kemudian beralih ke Ciherang. Kami ubah secara perlahan. Saat ini yang menggunakan Inpari baru sekitar lima persen," ujar Rofik.

Menurut Rofik, penggunaan bibit impari ini juga bertujuan untuk mengurangi resiko munculnya organisme pengganggu tanaman (opt) seperti wereng. "Inpari dan Ciherang memang tahan penyakit. Tapi untuk produktivitasnya masih bagus Inpari," katanya.

Dia mengakui, selain masalah kebiasaan (attitude) ada faktor psikologis yang memengaruhi penggunaan bibit Inpari. Salah satunya, adanya ketakutan dari petani hasilnya tidak bisa diserap oleh pedagang.

"Itu faktor psikologisnya. Takut nggak laku kalau dijual. Padahal ke depan penggunaan bibit Inpari ini akan dilaksanakan secara nasional," katanya.

Untuk terwujud penggunaan Inpari ke seluruh petani, dia berharap agar ketersediaan benih dan pupuk harus tepat waktu. Dinas terus melakukan  koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk pendistribusian bibit ini. Termasuk melibatkan desa mandiri benih yang ada di Sleman seperti di Dusun Tiwir Sumbersari Moyudan dan Sawahan Pandowoharjo Sleman.

"Benih padi dari kelompok tani baru mampu memproduksi lima ton atau untuk 10 haktare lahan pertanian. Padahal kebutuhan benih sangat tinggi. Satu hektare setidaknya butuh 25kg benih," ujarnya.

Terpisah, Sekretaris Kelompok Tani Ngudi Rejeki Tirtomartani Kalasan, Tugiman mengakui jika penggunaan Inpari lebih menguntungkan. Untuk lahan seluas 600 meter persegi, produktivitasnya bisa mencapai 2 kuintal.

"Selain tahan hama juga produksinya bagus. Saya menggunakan Inpari 34. Harga benih kalau menggunakan Kartu Tani biasanya setengah harga dari harga pasaran," ujarnya.