Penyandang Disabilitas Masih Dinilai Kurang Terampil

11 Maret 2018 09:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Hanya 30% perusahaan yang menerima disabilitas untuk bekerja

Harianjogja.com, SLEMAN-Pemerhati masalah disabilitas dari Yayasan Ciqal Tutik Purwaningsih mengakui, hingga saat ini masih ada anggapan penyandang disabilitas kurang memiliki keterampilan.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak penyandang disabilitas yang tidak terserap tenaga kerja. "Ini terlihat dari persyaratan adanya calon pencari kerja yang sudah berpengalaman, sehat jasmani dan lainnya menjadi persoalan sampai detik ini," katanya, Kamis (8/3/2018).

Tidak hanya itu, pemenuhan tempat dan sarana kerja yang pro difabel juga masih rendah. Belum lagi masalah sarana mobilitas, kurang responnya lingkungan kerja hingga teman kerja yang masih membedakan pekerja menjadi persoalan yang sampai saat ini terjadi. "Masih ada yang beranggapan tidak sehat jasmani dan rohani. Tapi kenapa Aksesibilitas difabel masih kurang diperhatikan," ujarnya.

http://m.harianjogja.com/?p=901788">Baca juga : RSBI Diharapkan Berdayakan Penyandang Disabilitas

Dia berharap pemerintah dan lembaga lainnya mampu memenuhi hak-hak yang diberikan kepada para difabel. Meski sudah ada aturan kewajiban perusahaan memperkerjakan difabel, tetapi masih sedikit perusahaan yang melaksanakannya. Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi DIY menyebutkan, dari sekitar 391 perusahaan dengan jumlah pekerja di atas 300 orang hanya 30% perusahaan yang menerima disabilitas untuk bekerja.

Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Sleman Surono menjelaskan, jumlah penyandang disabilitas pada 2017 sebanyak 10.268 jiwa. Rinciannya, sebanyak 5.554 orang laki-laki dan 4.714 orang perempuan. "Di Sleman juga ada dua kecamatan inklusi yaitu Berbah dan Ngaglik," katanya.

Adapun empat desa inklusi yang sudah dibentuk meliputi Merdikorejo (Tempel), Sendangtirto (Berbah), Sendangadi (Mlati), dan Sidoagung (Godean). "Di Kecamatan Tempel, ada 10 dusun inkluisi atau Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKBSM)," katanya.

Menurut Surono fasilitas layanan yang diberikan pada penyandang disabilitas cukup kompleks. Mulai dari pemenuhan hak identitas, layanan sambang warga, jaminan kesehatan dan pendidikan, perlindungan dan advokasi gerakan stop pasung. "Kami juga memberikan bantuan sosial bagi disabilitas berat, serta pendampingan usaha," ujarnya.

Untuk terus memberikan penyadaran dan hak-hak para disabilitas, dinsos juga bermitra dengan sejumlah lembaga seperti Yayasan Yakkum Kaliurang.