Ini 3 Opsi untuk Pembangunan Embarkasi Haji di Jogja

22 Maret 2018 05:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY menilai Pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) perlu disikapi lebih lanjut dengan membangun embarkasi haji baru di wilayah DIY.

Harianjogja.com, JOGJA- Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY menilai Pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) perlu disikapi lebih lanjut dengan membangun embarkasi haji baru di wilayah DIY.

Kanwil Kemenag DIY menyebutkan ada tiga alternatif yang dimungkinkan untuk membangun embarkasi. Diantaranya adalah renovasi asrama transit Jogja.

"Tapi, untuk opsi ini butuh kajian mendalam, karena jalur transportasi di lokasi itu sudah sangat padat," kata Kepala Seksi Sistem Informasi Haji Kanwil Kemenag DIY Imam Khoiri, Rabu (21/3/2018), usai berdialog dengan Komisi D DPRD DIY.

Opsi kedua, katanya, membangun embarkasi baru di tanah seluas 8.000 meter persegi dengan desain vertikal. Untuk rencana ini juga perlu kajian mendalam karena lahan yang sempit. Adapun opsi terakhir adalah pengadaan tanah seluas lima hektare.

Kanwil Kemenag DIY berharap pengadaan tanah dapat dilakukan oleh pemerintah daerah, karena anggaran di Kementerian Agama yang bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tidak boleh dipergunakan untuk pengadaan tanah.

Jika tanah ini tersedia, maka dengan dana SBSN, Kementerian Agama akan menyiapkan anggaran pembangunan tahun 2020.

"Harus ada sinergi dengan Pemda [DIY]. Nah, sinerginya nanti bagaimana tentu nanti dari kunjungan DIY ke [Pemerintah] Pusat. kami harapkan ada titik temu, bagaimana nanti untuk pengadaan ke depan ini. Kami butuh tanah, tanahnya di mana, berapa luasnya, apa persyaratannya, semua itu nanti kan dibicarakan di sana," tambah Imam.

Anggota Komisi D DPRD DIY Hamam Mutaqin mengatakan, Pemerintah Pusat dengan gagahnya menargetkan NYIA beroperasi pada 2019. Karena itu pada tahun yang sama, pembangunan embarkasi juga sudah harus dipersiapkan, sehingga 2020 sudah bisa beroperasi.

Terkait dengan lahan, Hamam menyebut itu bukanlah masalah besar. "Tanah kosong masih banyak di Kulonprogo. Di tepi pantai, daerah pegunungan, perkotaan. Enggak ada problem. Tinggal ada kemauan kebijakan dari Pemda [DIY] saja. Lokasi embarkasi memang sebaiknya dekat dengan bandara," katanya.