Pengusaha Minta Malioboro Bebas PKL, Pedagang Menolak

Suasana di sekitar kawasan pertokoan Malioboro, Sabtu (7/7 - 2018). Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
07 Juli 2018 19:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pedangang Kaki Lima (PKL) di bagian depan toko kawasan Malioboro mengungkapkan aspirasi mereka terkait pernyataan Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM) yang berharap bagian depan toko mereka bebas dari pedagang kaki lima mulai 1 Mei 2019. Para PKL menilai keputusan tersebut masih harus dirundingkan dengan berbagai pihak dan menuruti titah Sri Sultan HB X.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM) berharap bagian depan toko mereka bebas dari pedagang kaki lima mulai 1 Mei 2019.

PPM menilai, keberadaan PKL menutupi usaha mereka. Ketua PPM Budi Susilo mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan surat ke Wali Kota Jogja di mana dalam surat tersebut per 1 Mei 2019.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM) berharap bagian depan toko mereka bebas dari pedagang kaki lima mulai 1 Mei 2019. PPM menilai, keberadaan PKL menutupi usaha mereka.

Ketua PPM Budi Susilo mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan surat ke Wali Kota Jogja di mana dalam surat tersebut per 1 Mei 2019. Trotoar di depan toko akan digunakan oleh pemilik toko. PPM juga menyampaikan hal itu ke Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY.

"Sebab yang digunakan PKL selama ini bagian dari toko kami,” katanya usai beraudiensi dengan Kesbangpol DIY, Jumat (6/7/2018).

Budi mengatakan, PPM memiliki bukti dari Badan Pertanahan Nasional yang menunjukan batas tanah toko hingga pinggir jalan Malioboro. “Kami hanya minta hak kami dikembalikan. Ini juga untuk menghindari adanya oknum yang melakukan praktik jual beli lahan di Malioboro,” katanya.

Salah satu PKL asesoris, Ferianto, mengatakan  sudah mendengar soal wacana pengosongan PKL di sepanjang toko kawasan Malioboro. Namun dia bersikukuh tidak bersedia dipindahkan selama Sri Sultan HB X belum bertitah.

"Ya, saya sudah sering dengar itu [PKL di depan toko dibersihkan]. Tidak. Tidak bisa itu. Memang ada [pedagang toko] yang menginginkan hal itu tapi kami tidak akan pindah selama Sultan masih mengizinkan, kan Sultan masih mengizinkan," kata Feri, Sabtu (7/7/2018).

Informasi yang diterima berbeda dengan Ningsih, seorang PKL batik dan blangkon, dia malah belum mengetahui wacana lapaknya akan dikosongkan. Sejauh ini, Ningsih hanya mengetahui bahwa PKL yang akan ditata hanya PKL di kawasan Benteng Vredeburg untuk dipindah ke Sentra PKL Eks Bioskop Indra.

"Saya enggak tahu soal itu [penataan PKL]. Kok saya taunya hanya PKL kawasan Vredeburg saja ya? Kan mereka sudah ada tempat di Eks Bioskop Indra. Lah kalau PKL sini dikosongkan lalu mau ke mana?" kata Ningsih.

Namun Ningsih mengatakan dia hanya bisa mengikuti aturan yang nantinya disepakati. Asalkan lapak miliknya disediakan tempat dengan prospek dan posisi yang strategis.

Hal berbeda disampaikan oleh Sartono, PKL kaos oblong di kawasan toko Malioboro. Dia mengatakan bahwa lima paguyuban di kawasan toko Malioboro sepakat untuk tidak memberi statement apapun terkait hal tersebut.

"Kami disuruh kompak diam dulu, daripada salah. Hal ini kan masih perlu diperbincangkan toh? Dengan UPT Malioboro, dengan paguyuban, itu kan nanti ada timya sendiri. Pasti dicari jalan keluarnya," kata Sartono.