Pemkab Gunungkidul Kembangkan Telemedicine, Apa Itu?

Ilustrasi kesehatan. - Harian Jogja
27 September 2018 16:20 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul tengah mengembangkan teknologi telemedicine, yakni sebuah layanan kesehatan jarak jauh untuk memudahkan konsultasi antara pasien dan dokter.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Gunungkidul Sumitro menjelaskan kantornya telah menguji coba program telemedicine ini di lima puskesmas, meliputi Puskesmas Playen 1, Ngawen 1, Semanu 1, Nglipar 1 dan Rongkop.

Kecuali Rongkop, empat puskesmas lain telah memiliki alat penunjang telemedicine, di antaranya timbangan berbasis bluetooth, stetoskop bluetooth, tablet dan tensimeter digital. Puskesmas yang telah memiliki perangkat telemedicine ini akan terhubung dengan perangkat serupa di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari.

Nantinya jika ada pasien di puskesmas yang memerlukan konsultasi dokter tapi di puskesmas tersebut tidak ada dokter, maka bisa langsung dihubungkan dengan dokter di RSUD Wonosari. “Prinsipnya seperti telekonferensi tapi ini khusus untuk konsultasi medis,” kata dia, Rabu (26/9/2018).

Menurut Sumitro, ada satu hal yang membuat menarik, yakni ada alat penunjang medis berteknologi bluetooth sehingga dokter yang terhubung bisa mendiagnosis sakit yang diderita pasien tanpa bertemu langsung. Namun, penggunaan telemedicine tidak bisa dilakukan secara mendadak. Mesti ada penjadwalan mengingat keterbatasan dokter spesialis di RSUD Wonosari. Selain itu, dokter juga harus menangani pasien yang langsung datang ke rumah sakit.

Sumitro menjelaskan perangkat penunjang telemedicine ini merupakan bantuan dari Tim Faster Botten dari Swedia yang merupakan program kerja sama Universitas Gadjah Mada dengan Universitas Umeo, Swedia.

Kerja sama sudah dilakukan sejak 2016. Sejak itu, tukar pengalaman soal kesehatan masyarakat terus dilakukan sampai akhirnya ada tawaran penggunaan telemedicine.

Dibalik semua kemudahan tersebut, Sumitro mengakui Dinkes masih terkendala minimnya sumber daya manusia (SDM), baik dokter spesialis di RSUD maupun di puskesmas.

Ada juga kendala pada belum meratanya jaringan telekomunikasi di pelosok Gunungkidul karena penggunaan telemedicine perlu dibantu jaringan telekomunikasi yang kuat.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Puskesmas Playen 1, Yolanda Barahama, menerangkan alur penggunaan telemedicine ini dimulai dari adanya kasus penyakit yang dilaporkan posyandu, posbindu maupun masyarakat langsung ke puskesmas.

Jika puskesmas bisa menangani maka telemedicine tidak akan dilakukan. “Tetapi, jika ada kasus penyakit yang perlu konsultasi langsung ke dokter spesialis, ya kami [puskesmas] langsung pakai telemedicine ke dokter yang bersangkutan,” ujar dia.

Yolanda berharap penggunaan telemedicine bisa dimaksimalkan dan mampu membantu pasien yang jauh dari rumah sakit sehingga bisa segera ditolong dan didagnosis penyakitnya.