Pengidap HIV/AIDS Paling Banyak di DIY Ternyata Warga Usia Produktif

Ilustrasi HIV - AIDS. (Harian Jogja)
01 Desember 2018 09:50 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Jumlah kasus HIV/AIDS yang ditemukan di DIY terus meningkat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan kasus penderita HIV/AIDS di daerah ini secara kumulatif terus mengalami peningkatan setiap tahun sejak ditemukan pertama kali pada 1993.

"Sampai dengan Juni 2018 [jumlah kumulatif] kasus HIV di DIY mencapai 4.472 kasus dan 1.564 sudah masuk fase AIDS," kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Sektyarini Hestu Lestari saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (30/11/2018).

Dia mengatakan, dari sebanyak 4.472 kasus tersebut, pengidap HIV/AIDS di DIY didominasi usia produktif dengan rentang usia 20-29 tahun yang mencapai 1.402 orang, disusul usia 30-39 tahun sebanyak 1.299 orang, dan usia 40-49 tahun sebanyak 746 orang.

Sebaran kasusnya, untuk HIV tertinggi masih di Kota Jogja yang mencapai 1.133 kasus, di Kabupaten Sleman 1.046 kasus. Adapun AIDS, tertinggi di Kabupaten Sleman mencapai 366 kasus, diikuti Bantul dan Kota Jogja.

Khusus temuan kasus baru HIV/AIDS di DIY, selama 2018 untuk periode Januari-Juni tercatat 315 kasus HIV, dan 39 kasus AIDS. Sedangkan pada 2017 untuk periode Januari hingga Desember tercatat 27 kasus AIDS dan 390 HIV.

Sementara itu, untuk faktor risiko yang paling banyak memicu HIV/AIDS di DIY adalah heteroseksual (hubungan seksual dengan lawan jenis), disusul homoseksual, dan narkotika suntik, dan air susu ibu.

Menurut Sektyarini, ada banyak faktor yang menyebabkan kasus HIV/AIDS di DIY terus meningkat, di antaranya akibat pergaulan bebas di kalangan usia produktif. Pergaulan tanpa disertai kontrol di usia tersebut terindikasi kuat memicu penularan HIV/AIDS yang di antaranya melalui hubungan seksual.

"Apalagi penularan HIV/AIDS paling dominan memang melalui hubungan seksual, sedangkan penularan melalui darah atau air susu ibu saya kira sangat kecil," katanya.

Namun demikian, kata Sektyarini, di sisi lain meningkatnya jumlah kasus tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat penderita HIV/AIDS untuk memeriksakan dirinya ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya.

"Sekarang ada kebijakan kalau hamil harus diperiksa HIV, spilis, dan hepatitis B, sehingga peningkatan jumlah kasus itu juga didapatkan dari hasil pemeriksaan tersebut,"ujarnya.

Sumber : Antara