Di Gunungkidul, Danais Banyak Dimaksimalkan Untuk Pembangunan Taman Budaya

Ilustrasi dana. - Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya
26 Desember 2018 18:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Serapan Dana Keistimewaan (Danais) di Kabupaten Gunbungkidul tahun ini banyak digunakan untuk pembangun Taman Budaya yang berlokasi di Dusun Siyono, Desa Logandeng, Kecamatan Playen.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Gunungkidul Agus Kamtono menjelaskan untuk pengerjaan taman budaya setidaknya pada tahun ini mengerlukan dana sekitar Rp15 miliar. “Pengerjaannya itu Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman [DPUPKP],” kata Agus, Rabu (26/12/2018).

Meski begitu dikatakan Agus saat ini progres pembangunan masih jauh, dan ditarget selesai pada 2020 mendatang. Diharapkan Agus dengan adanya Taman Budaya tersebut dapat menampilkan seni budaya yang menarik wisatawan.

Selain itu juga dengan adanya taman budaya tersebut dapat dimanfaatkan untuk istirahat wisatawan yang datang dan akan ada kios-kios yang menjual souvenir dan oleh-oleh.

Selain itu Danais yang ada di Disbud Gunungkidul sebesar Rp13 miliar dimanfaatkan untuk pengembangan seni dan budaya di masyarakat, salah satunya untuk bantuan alat gamelan.

Menurut Agus pemanfaatan Danais saat ini sudah cenderung merata dirasakan oleh masyarakat. Ia berharap pemanfaatan Danais ini dapat mendorong seni budaya di Gunungkidul, untuk menjadi daya tarik wisata di Gunungkidul, karena saat ini pariwisata Gunungkidul masih mengandalkan wisata alam.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul Sri Suhartanta mengatakan untuk Danais yang ada di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebesar Rp35,576 Miliar.

Dijelaskannya berdasarkan data yang ada di November capaian serapan dinilianya cukup baik. “Untuk DPUPKP Insyaallah mencapai 100 persen, begitu pula yang ada di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang untuk pendaftaran tanah itu bisa 100 persen,” kata Sri.

Sementara itu untuk Danais yang ada di Disbud Gunungkidul menurut Sri saat ini baru mencapai sekitar 90%. Hal itu dinilainya karena cukup banyaknya kegiatan seperti program sejarah, bahasa dan permuseuman yang kurang sedikit lagi, kemudian pengembangan kesejarahan, pengembangan bahasa dan sastra, pembinaan pengembangan rintisan budaya, penggiat seni.

“Ya kurang sedikit sekitar 90%, tapi ya semoga terserap semua nantinya,” ujar Sri.