Advertisement

Imlek di Masjid, Akulturasi Makin Kental

Salsabila Annisa Azmi
Selasa, 05 Februari 2019 - 22:25 WIB
Maya Herawati
Imlek di Masjid, Akulturasi Makin Kental Ilustrasi Imlek - Reuters

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Tiga dekade lebih masyarakat Tionghoa tak bisa merayakan Imlek secara terbuka saat era Orde Baru. Kini perayaanTahun Baru Imlek makin terbuka, menandakan menguatnya akulturasi. Bahkan beberapa tahun terakhir, perayaan juga dilakukan di masjid. Sesuatu yang mustahil di masa lalu.

Keputusan Gus Dur saat datangnya era Reformasi dengan mencabut Instruksi Presiden (Inpres) No.14/1967 yang pelarangan pementasan kebudayaan Tionghoa menandai era baru akulturasi di Indonesia. Gus Dur kemudian memperbarui inpres yang dikeluarkan Presiden Soeharto itu dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No.6/ 2000 tentang Pencabutan Inpres No.14/1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China.

Sejak itulah kebudayaan Tionghoa bergairah. Pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri, Imlek kemudian ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Akulturasi pun menguat terus. Perayaan bahkan bisa diadakan di dalam masjid-masjid. Tak hanya di Jakarta, hal itu juga dilakukan di DIY.

Pada 2002, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DIY juga menyelenggarakan perayaan imlek di Masjid Syuhada, Kotabaru Jogja. Perayaan imlek di Masjid Syuhada pada 2002 dilanjutkan dengan pengajian rutin PITI DIY di sejumlah masjid di DIY.

Dalam penyelenggaraan pengajian tersebut, PITI DIY juga turut menggandeng Pemuda Tionghoa Muslim (PTM) DIY, sebuah komunitas pemuda yang menjadi regenerasi PITI DIY. Hal tersebut dipaparkan oleh Anggota Pemuda Tionghoa Muslim (PTM) DIY sekaligus peneliti budaya dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Rezza Maulana. 

“Jadi semua pengajian rutin PITI DIY berawal dari perayaan imlek di Masjid Syuhada pada 2002, pencetusnya Ketua PITI DIY, Budi Setyagraha. Waktu itu kami mengadakan seminar budaya Tionghoa di masjid, pengajian, dilanjutkan dengan salat hajat,” kata Rezza kepada Harian Jogja pekan lalu.

Sebelum dapat menyelenggarakan perayaan Imlek di Masjid Syuhada, mereka berkonsultasi kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jogja terkait materi pengajian. Hasilnya tak ada masalah terkait materi kebudayaan Tionghoa yang akan dibawakan. Hanya saja benda-benda seperti patung dewa dan dupa yang mengandung unsur syirik dalam islam tidak diperkenankan masuk masjid.

Sedangkan materi yang dibawakan kental dengan akulturasi budaya Tionghoa dalam Islam. Contohnya seperti memperkenalkan bahwa di Tiongkok ada umat muslim yang turut merayakan Imlek yaitu suku Hui. Selain itu, diperkenalkan pula ulama-ulama Islam yang berdarah Tiongkok dan merayakan Imlek.

 

Sempat Diprotes

Advertisement

Rezza mengatakan ada beberapa tokoh ormas Islam tertentu yang menentang terselenggaranya Imlek di Masjid Syuhada karena menganggap kegiatan tersebut syirik. Momen penting yang menjadi penanda penerimaan kegiatan tersebut adalah ketika sekitar 200 orang dari masyarakat umum, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan MUI menghadiri perayaan Imlek di Masjid Syuhada. Hasilnya, gelombang protes tak terlalu kentara. Meski beberapa tokoh tak setuju dengan kegiatan itu, tidak ada sejarah kerusuhan dalam penyelenggaraan Imlek di masjid. Hingga kini pengajian oleh PITI DIY dilaksanakan di masjid-masjid DIY.

Merunut catatan Rezza, sepanjang 2003 hingga 2011 organisasi PITI DIY sudah melaksanakan enam kali pengajian imlek. Meski awalnya ada pertentangan dari publik, rupanya organisasi ini mampu meneruskan upaya dakwah ini hingga dua tahun lalu.

Contohnya di Masjid Gede Kauman. Ketua Takmir Masjid Gede Kauman, Azman Latif, mengatakan pada 2016 ada perayaan Imlek di Masjid Gede Kauman oleh PITI DIY.

Advertisement

“Sejak awal kami langsung mempersilakan ada pengajian untuk perayaan imlek di Masjid Gede, sebab kami tahu itu kan budaya. Sama seperti syawalan dalam Islam,” kata Azman.

Azman mengatakan saat itu seluruh masyarakat di sekeliling Masjid Gede Kauman dan tokoh-tokoh ormas Islam diundang melalui undangan dan pengeras suara. Meskipun beberapa masyarakat sempat memandang banner merah bertuliskan “Gong Xi Fa Cai” di gerbang masjid sebagai hal yang syirik, anggota takmir masjid meyakinkan mereka bahwa itu hanyalah simbol yang tidak berpengaruh pada substansi dari pengajian yang mereka ikuti di Masjid Gede Kauman. “Pengajiannya sama saja, layaknya pengajian islam, tetapi ada akulturasi budaya Tionghoa, diperkenalkan di sana juga ada ulamanya,” kata Azman.

Pengajian Imlek juga dilakukan di Masjid Muttaqien yang berada di sebelah selatan Pasar Beringharjo.  Seminggu setelah perayaan Tahun Baru Imlek 2568 yang jatuh pada 28 Januari 2017, PITI DIY turut mengisi pengajian rutin Sabtu pagi di Masjid Muttaqien pada 4 Februari 2017.

“Masjid Muttaqien memang punya kegiatan pengajian setiap Sabtu pagi. Saat itu anggota jamaah dari PITI datang. Bertepatan dengan Imlek, beliau diberi kesempatan menyampaikan apa ta yang dimaksud dengan Imlek itu, versi dari orang-orang PITI yang beragama Islam,” ujar Afton Rauf, salah seorang pengurus takmir Masjid Muttaqien ketika ditemui belum lama ini.

Advertisement

Sepanjang ingatannya, PITI DIY pagi itu menjelaskan sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia sejak masa Laksmana Cheng Ho sebagai pemeluk Islam. Mereka meluruskan pandangan publik bahwa Imlek adalah perayaan momen tahun baru, bukan perayaan agama. Meski dari kalangan muslim Tionghoa yang datang tidak mencapai sepuluh orang, tetapi jamaah pengajian pagi itu mencapai 700 orang. “Tahun ini ada acara atau enggak, saya enggak ngerti. Belum ada gaungnya,” kata Afton.

 

Bisa di Mana Saja

Advertisement

Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Yerry Wirawan perayaan Imlek di rumah ibadah menunjukkan peringatan kebudayaan Tionghoa ini bersifat terbuka dan bisa dilakukan di mana saja.

“Intinya adalah menyambut tahun baru dengan harapan-harapan yang baik di tahun tersebut. Ungkapan harapan ini bisa dilakukan di mana saja termasuk dalam rumah ibadah sesuai kepercayaan masing-masing penganutnya,” jelas Yerry kepada Harian Jogja, pekan lalu.

Menurutnya, proses peleburan budaya Jawa dan Tionghoa di Jogja sudah berlangsung melalui interaksi budaya dan kehidupan bersama antar kedua etnis tersebut. Interaksi yang berlangung cukup lama tersebut menyebabkan peleburan budaya, tak hanya di masyarakat Jawa, melainkan juga masyarakat Tionghoa. “Meski begitu, penerimaan budaya Jawa lebih banyak terjadi di masyarakat Tionghoa, misalnya saja penggunaan bahasa Jawa dibandingkan bahasa Tionghoa. Wujud peleburan itu adalah terbentuknya masyarakat Tionghoa Peranakan Jawa,” jelasnya.

Meski terbilang sulit menelusuri momen besar yang menandai akulturasi Jawa-Tionghoa di DIY, tetapi Yerry meyakini aktivitas keseharian di pasar atau kampung di mana orang Tionghoa berada menjadi momen yang membangun akulturasi antara keduanya.

Advertisement

“Momen penting lainnya itu pernikahan antara orang Tionghoa dan Jawa. Pernikahan ini lumrah terjadi pada masa lampau karena pendatang di Pulau Jawa adalah laki-laki, keturunannya disebut Peranakan tadi,” tutur dia.

Dirinya melihat masyarakat saling menerima peleburan kedua budaya tersebut. “Proses akulturasinya alamiah melalui proses interaksi yang panjang. Kebudayaan Tionghoa yang selaras dengan kebudayaan setempat menjadikan komponen yang mengisi dan memperkaya kebudayaan Jawa,” ungkap Yerry. Ia mencontohkan, akulturasi budaya yang sama-sama diterima oleh kedua budaya tersebut mulai dari batik sampai kuliner, seperti mi, bakpia, soto, dan lain-lain.

“Pada tingkat masyarakat umum, [toleransi] Jogja menurut saya sangat baik. Ada festival di Ketandan tiap tahun. Tidak ada ancaman perayaan Imlek,” kata dia. Ia bahkan menyoroti catatan toleransi ada dua peristiwa penting. “Sekurangnya ada dua peristiwa penting yaitu saat tokoh masyarakat Tionghoa memberikan dukungannya pada pemerintah Republik Indonesia pada masa revolusi yang kini prasastinya masih ada di Keraton. Yang kedua adalah saat kota lain terjadi kerusuhan Mei 1998, di Jogja situasi aman,” kata Yerry.

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Streaming Starjoja FM
alt

Puluhan Warga Wadas dan Kaliwader Kompak Berangkat Umrah

News
| Selasa, 09 Agustus 2022, 12:07 WIB

Advertisement

alt

Dulu Dipenuhi Perdu Liar, Kini Pantai Goa Cemara Jadi Primadona Baru Wisata di Bantul

Wisata
| Senin, 08 Agustus 2022, 15:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement