Awali Milad ke-76, UII Kukuhkan Kawasan Wisata di Klaten

Rektor UII Fathul Wahid (kiri) saat menanam pohon di Kawasan Wisata Bukit Pertapan, Kebon, Bayat, Klaten, Jumat (8/2/2019). - Ist/Humas UII.
09 Februari 2019 04:57 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Universitas Islam Indonesi (UII) mengawali rangkaian acara Milad ke-76 dengan mengukuhkan kawasan wisata budaya, alam dan edukasi di Kebon, Bayat, Klaten, Jumat (8/2/2019). Di desa ini UII memberikan banyak dukungan pengembangan wisata alam untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ketua Panitia Milad ke-76 UII Fuad Khadafianto menjelaskan, sejumlah kegiatan telah dilakukan UII di Desa Kebon, Bayat, Klaten melalui program pengabdian masyarakat. Sejalan dengan itu, pengukuhan kawasan wisata dilakukan bersamaan dengan awal rangkaian pembukaan Milad UII ke-76. “Di desa Kebon ini kami setidaknya sudah melakukan tujuh kegiatan untuk mendorong terwujudnya desa wisata budaya, alam, edukasi,” terangnya dalam rilisnya, Jumat (28/2/2019).

Kegiatan itu terdiri atas, pihaknya telah menginisiasi pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta pendirian dan pelatihan kelompok batik jumputan sampai desain motif dan model hingga penghitungan harga pokok penjualan. Kemudian meningkatkan kapasitas SDM pembatik dan pengelola wisata dengan berbagai pendampingan. “Termasuk juga membentuk kelompok produsen makanan tradisional,” katanya.

Rektor UII Fathul Wahid yang hadir secara langsung dalam pengukuhan kawasan wisata itu menyatakan, UII sengaja mengawali rangkaian acara milad di luar kampus sebagai bentuk kepedulian terhadap pembangunan wilayah desa. Keberadaan kawasan wisata budaya, wisata alam dan edukasi di Kebon diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Peringatan Milad diawali acara di luar kampus ini sebenarnya bukan pertama kalinya. Di UII ketika milad UII tahun 1949 saat Rektor dijabat Pak Kahar, saat itu semua kegiatan mahasiswa dilakukan di luar kampus, beliau tetap berusaha untuk memperingati milad untuk menunjukkan keberadaan UII,” ucapnya.

Fathul menambahkan, di Kebon, Klaten, pendampingan lain yang juga sudah diberikan dalam rangka meningkatkan pendapatan desa adalah membuatkan masterplan Bukit Pertapan dan  gambar teknik bangunan. Bukit ini diharapkan menjadi salah satu kawasan wisata budaya, alam. “Karena di sini banyak spot menarik yang bisa dikembangkan untuk wisata. Kami sudah memulai melakukan pendampingan sejak 2016,” ujarnya.

 Ia mengatakan, melalui pendampingan yang diberikan pihaknya berusaha untuk mengintegrasikan potensi desa sehingga bersinergi dalam tahapan pembangunan desa. Selain itu UII telah menginisiasi berdirinya museum batik dan membuatkan desain gedung yang sudah masuk dalam APBDes 2019. “Museum batik ini nantinya bisa jadi tempat wisata terutama untuk pelestarian motif batik,” ucapnya.

Kepala Desa Kebon, Bayat, Klaten Sukoco mengakui besarnya manfaat bagi desa terkait pendampingan yang diberikan oleh UII. Mahasiswa KKN dari UII yang bertugas di Kebon selalu memberikan upaya melakukan inovasi dalam pengembangan desa terutama wisata. “Kalau kami melihat dari setiap periode pendampingan selalu ada perkembangan, terutama pengembangan SDM kami,” katanya.