2 Kecamatan di Kulonprogo Ini Paling Diwaspadai Persebaran DBD

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
09 Februari 2019 06:57 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mencatat, di Januari 2019 sudah ada 19 kasus demam berdarah dengue (DBD). Jumlah tersebut dianggap normal terjadi di awal tahun.

Namun, siklus yang terjadi pada DBD bisa saja berubah tergantung kondisi cuaca. DBD di Kulonprogo ini paling banyak menyerang di dua kecamatan yang kondisi geografis dataran rendah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayujati mengatakan, penyakit DBD biasanya sering terjadi di awal musim hujan dan akhir musim hujan. Sementara, berdasarkan pendataan dari Dinkes Kulonprogo, pada Januari tahun ini, di Kulonprogo sudah ada 19 kasus DBD.

"Sebenarnya, kasus DBD di awal tahun ini relatif normal dan sama saja dengan tahun lalu," kata Baning pada Harian Jogja, Kamis (7/2/2019). Ia mengatakan, di Kulonprogo terjadinya peningkatan secara drastis kasus DBD pada jangka waktu enam tahun sekali.

Menurut Baning, siklus tersebut bisa saja berubah dan tidak lagi enam tahunan. "Tergantung kondisi cuacanya, ketika terjadi musim hujan yang cukup panjang, maka kemungkinan bisa terjadi lagi siklus peningkatan kasus DBD yang drastis," kata Baning.

Tahun lalu, jumlah kasus DBD di Kulonprogo mencapai 109 kasus. Sementara di 2017 mencapai 79 kasus. Baning mengatakan jika merujuk pada siklus enam tahunan peningkatan kasus DBD di Kulonprogo, maka siklus tersebut akan terjadi di 2022.

Lonjakan kasus DBD yang drastis terakhir terjadi di 2016. Lonjakan kasus di 2016 mencapai 381 kasus DBD. Sementara siklus sebelumnya terjadi di 2010 yang mencapai 472 kasus.

Baning mengatakan, untuk sebaran kasus DBD di Kulonprogo, paling banyak menyerang di wilayah rendah seperti Pengasih dan Wates. "Kalau di wilayah rendah seperti Pengasih dan Wates, nyamuk penyebab DBD biasanya mudah menyerang. Berbeda dengan wilayah tinggi seperti Samigaluh yang lebih banyak terdapat kasus malaria," ujar Baning.

Di Puskesmas Pengasih I, lonjakan kasus terjadi awal tahun ini. Selama 2018, kasus DBD di Puskesmas tersebut mencapai lima kasus. Namun, selama Januari tahun ini saja, jumlah kasus DBD di Puskesmas Pengasih I sudah mencapai lima kasus.

Kepala Puskesmas Pengasih I, Setiaji Wibowo mengatakan dalam mengantisipasi kasus DBD di masyarakat, pihaknya langsung melakukan tindakan Penyelidikan Epidemiologi (PE) DBD. "Kami juga secara rutin melakukan tindakan PSN [Pemberantasan Sarang Nyamuk] ke lingkungan warga sampai tingkat dusun," ujar Setiaji.