Hasil Panen Jagung Melimpah, Petani Khawatirkan Isu Impor

Seorang petani jagung di Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, memeriksa tanaman jagung di lahan miliknya, Rabu (16/1/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
10 Februari 2019 21:15 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Melimpahnya hasil panen jagung di Gunungkidul terganggu dengan isu impor jagung yang bakal dilakukan pemerintah.

Ketua Gapoktan Sido Maju, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Sumari Citro Wibowo, mengatakan lahan tanaman jagung di wilayahnya luasnya mencapai 748 hektare. Sampai saat ini baru separuh lahan dipanen.

Dari hasil perhitungan yang dilakukan, setiap hektare lahan mampu menghasilkan sekitar 9,7 ton jagung pipil kering atau 13,47 ton jagung pipil basah. Dengan harga jual saat ini yang mencapai Rp5.000 per kilogram, keuntungan yang bakal diperoleh para petani cukup lumayan. "Hasil panen saat ini sangat luar biasa, yang jelas petani sangat diuntungkan, bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat," ujarnya saat panen jagung massal, Sabtu (9/2/2019).

Sayangnya, saat ini petani justru khawatir dengan adanya kabar Pemerintah Pusat bakal membuka keran impor jagung. Petani khawatir jika impor jagung terus dilakukan, harga jagung di tingkat petani bakal merosot. "kami berharap pemerintah membatasi atau bahkan berhenti mengimpor jagung, terutama saat musim panen seperti sekarang ini," kata dia.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto, saat menghadiri panen raya jagung di Desa Bleberan mengapresiasi petani jagung di Gunungkidul yang sudah berhasil menanam jagung Hibrida Bisi 2 hingga menghasilkan hampir 10 ton jagung pipil kering untuk tiap satu hektare lahan. Capaian tersebut sangat baik melihat kondisi Gunungkidul yang terkenal gersang. Dia berpesan petani jagung di Gunungkidul tak perlu khawatir mengenai impor karena tidak akan memengaruhi harga jagung. “Saat ini kebutuhan jagung secara nasional mencapai 15,1 juta ton, sedangkan hasil produksinya sudah mencapai 30 juta ton,” kata Sumardjo.

Dijelaskan Sumardjo, saat ini harga jagung terus membaik. Selama ini wilayah penghasil dengan wilayah pengguna tidak berada dalam satu wilayah, sehingga biaya produksi atas mobilitas ikut bertambah. "Pengguna jagung terbanyak adalah Jawa Timur, sedangkan produksi yang terbanyak berada di Palu, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, sehingga butuh mobilisasi, pergudangan, logistik, dan transportasi," katanya.