Sawah Tadah Hujan Rawan Kebanjiran. Ini Penjelasannya

Ilustrasi - pompa air untuk irigasi sawah.JIBI
05 Maret 2019 08:57 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, WONOSARI--Sawah yang berada di daerah tadah hujan rawan terkena banjir saat musim hujan seperti sekarang ini. Pasalnya, di area tersebut tidak ada air irigasi untuk mengairi persawahan.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, apabila terjadi banjir setelah hujan seharian merupakan fenomena alam. "Karena itu sawah tadah hujan jadi tidak bisa diapa-apakan," ujarnya, Senin (4/3/2019).

Menurut dia, beberapa pengalaman banjir di area sawah tadah hujan, petani masih bisa panen. Tetapi akibat terkena banjir akan mempengaruhi kualitas padi dan jumlah padi yang akan dipanen.

"Paling tidak masih bisa dapat separuhnya walau kualitas menurun, sebaiknya kalau terjadi banjir lekas dikeringkan lalu dipanen," imbuhnya.

Terkait dengan sawah tadah hujan, DPP Gunungkidul tidak dapat melakukan pendataan. Lantaran, hal itu masuk dalam bidang pengairan di Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Pemukiman (DPUPRKP) Gunungkidul.

Sebelumnya, sawah seluas satu hektare di Padukuhan Semanu Selatan, Desa Semanu Kecamatan Semanu, hampir gagal panen karena terendam air setinggi 2,5 meter.

Warga setempat, Sutoyo mengungkapkan, hujan deras yang mengguyur wilayah Semanu dan sekitarnya pada Sabtu (2/3/2019) sempat menggenangi kawasan persawahan tersebut. Akan tetapi air yang menggenangi sudah surut pada senin ini. “Airnya cepat surut, kami targetkan sepuluh hari lagi bisa panen,” ujar Sutoyo.

Penyebab genangan air adalah akibat saluran air yang menuju luweng tersumbat. Di tengah sawah ada luweng, yang kemungkinan besar mampet, sehingga air tidak dapat mengalir dengan lancar.