Ratusan Ahli Kumpul di Jogja Cari Solusi Terkait Persoalan Tekstil

Kegiatan Kongres IKATSI ke-IV, Jumat (8/3/2019). - Ist/Panitia Kongres
08 Maret 2019 22:37 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sedikitnya 150 orang ahli tekstil dari berbagai penjuru tanah air berkumpul di Jogja dalam kongres Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) ke-IV, di Hotel Quality, Depok, Sleman Jumat (8/3/2019). Dalam kongres itu para ahli sepakat untuk membahas berbagai persoalan industri tekstil di Indonesia sekaligus memberikan rekomendasi kepada pemerintah.

Organizing Commitee Kongres IKATSI IV Sukirman menjelaskan kegiatan itu dihadiri para ahli serta praktisi tekstil dari seluruh Indonesia. Meski agenda utama kongres adalah menentukan ketua umum, namun dalam pertemuan itu dibahas juga berbagai persoalan berkaitan dengan tekstil sekaligus mencari solusinya.

Sukirman tidak menampik, masih banyak persoalan tekstil. Mulai dari banjirnya impor, sehingga tekstil nasional tidak bisa bersaing dengan baik hingga tekstil saat ini belum berpihak pada perguruan tinggi. Padahal perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan sumber daya manusia. Karena dengan adanya tenaga kerja yang berkompeten di bidang tekstil, maka industri akan bisa bertahan.

"Pemerintah harus membatasi impor, kemudian memacu perkembangan teknologi tekstil. Selama ini dari sisi pendidikan tidak tergarap dengan baik, tenaga ahli masih minim, keprihatinan tentang pengembangan pendidikan tekstil tidak berpihak pada perguruan tinggi," terangnya dalam keterangan persnya, Jumat (8/3/2019).

Sukirman menambahkan, dalam kongres itu juga akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah tentang sandang. Menurutnya saat ini butuh adanya Undang-Undang berkaitan dengan sandang. Selama ini sandang tidak terlindungi dengan baik oleh pemerintah sehingga ke depan harus didorong akan adanya perlindungan tersebut.

Staf Khusus Menteri Perindustrian Beni Sutrisno yang hadir membuka kongres itu mengapresiasi berkumpulnya ratusan ahli tekstil. Dari pertemuan itu diharapkan menghasilkan suatu gagasan yang baik untuk industri tekstil ke depannya. Hingga saat ini industri tekstil memberikan peluang lapangan kerja paling banyak di Indonesia. "Memang belum pernah sampai saat ini ahli bisa terkumpul sebanyak ini. Tekstil ini sangat luas, jadi harus ada kolaborasi antara ahli dengan industri, pada dasar kolaborasi data dan lain sebagainya, karena dunia sudah terus berubah, kalau kita nggak berinovasi maka bisa mati," katanya.

Dalam kongres itu digelar pula seminar bertajuk Transformasi Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia dalam Era Revolusi Industri dengan menghadirkan sejumlah narasumber salah satunya dari Sritex.

Ketua IKATSI Redma Gita menyatakan dalam sejarah perkembangan industri, tekstil selalu menjadi industri pelopor dan mengantarkan masyarakat pada kehidupan yang lebih baik. Tekstil juga mengantarkan bangsa ke arah industri yang lebih baik. "Para ahli yang telah mempersiapkan dirinya memberikan pengabdian di bidang tekstil tidak dapat dilepaskan perannya di dalam perkembangan industri tersebut," ucapnya.