Dua Desa di Gunungkidul Masih Rawan Pangan

Tim dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul saat melakukan pemantauan lahan pertanian di Desa Jetis, Saptosari, Gunungkidul. - Ist/ Dok Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul
14 Maret 2019 09:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Desa Tegalrejo dan Watugajah di Kecamatan Gendangsari masih masuk kategori dewa rawan pangan di Gunungkidul. Dinas Pertanian dan Pangan terus berusaha agar kedua desa bisa maju sehingga terlepas dari predikat tersebut.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan mengatakan, dari 144 desa, tinggal Desa Tegalrejo dan Watugajah yang masuk dalam kategori rawan pangan.

Jumlah ini telah mengalami penurunan karena sebelumnya ada tujuh desa yang masuk kategori tersebut. “Sudah banyak berkurang dan sekarang tinggal dua desa,” kata Fajar kepada wartawan, Rabu (13/3/2019).

Dia menjelaskan, penetapan desa rawan ada beberapa kriteria. Selain dilihat dari jumlah penduduk miskin di suatu desa, indikator juga mengacu pada tingkat konsumsi dan daya beli di masyarakat. “Setelah dilakukan kajian, dua desa [Watugajah dan Tegalrejo] dinyatakan masih rawan pangan,” ungkapnya.

Menurut Fajar, penyelesaian masalah desa rawan pangan merupakan pekerjaan yang harus diselesaikan pemkab. Untuk pengentasan, sambung dia, sudah disiapkan berbagai program guna mendukung pengembangan di sektor ketahanan pangan di dua desa.

“Target pemkab adalah nol desa rawan pangan sehingga kami terus berusaha agar dua desa bisa memiliki ketahanan pangan yang baik sehingga bisa keluar dari predikat rawan pangan,” tuturnya.

Selain masalah penanggulangan di dua desa, Fajar menambahkan bahwa desa-desa yang sudah terbebas dari rawan pangan akan terus dilakukan pendampingan agar tidak kembali lagi masuk ke predikat itu.

“Ya kalau sampai turun malah jadi kemunduran. Jadi, kami tidak ingin desa-desa masuk kategori swadaya masuk lagi sebagai desa rawan pangan. Untuk penanggulangan, khususnya di sektor pertanian akan memanfaatkan kelompok agar dapat mengoptimalkan sumber pertanian di wilayah masing-masing,” katanya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Gunungkidul Sri Suhartanta mengatakan, Kecamatan Gedangsari dan Saptosari masuk sebagai wilayah termiskin di Bumi Handayani. Oleh karenanya, program pengetasan kemiskinan diarahkan ke dua kecamatan ini.

“Sudah ada programnya mulai dari program kesekatan, fasilitasi jamban sehat hingga upaya pengembangan di sektor UMKM,” kata Sri.

Dia menjelaskan, total anggaran untuk penanggulangan kemiskinan mencapai Rp64,8 miliar telah disediakan pemkab. “Selain Gedangsari dan Saptosari, ada kecamatan lain seperti Nglipar, Girisubo, Semin dan Playen masuk kategori miskin,” katanya.