Banyak Daerah di DIY Berpotensi Longsor, Ini Penjelasan Ahli Geologi

Dampak longsor di Bantul, Selasa (19/3/2019). - Harian Jogja/Gigih M. hanafi
21 Maret 2019 21:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Siklon Tropis Veronica saat ini berada di Samudra Hindia dan bisa memicu hujan lebat di wilayah DIY selama beberapa hari ke depan. Ancaman banjir dan tanah longsor pun mengintai provinsi ini.

Ahli Geologi UGM, Wahyu Wilopo mengatakan sejumlah wilayah DIY memang memiliki potensi longsor. Daerah rawan itu seperti di Kecamatan Kretek, Pundong, Imogiri serta sebagian Piyungan, Bantul. Untuk wilayah Kulonprogo meliputi Pegunungan Menoreh, Kokap, Girimulyo, Samigaluh dan Kalibawang. Kemudian di Gedangsari Gunungkidul. “Struktur tanahnya dan kedua karena lerengya,” ucap Wahyu, di Fakultas Teknik UGM, Sleman, Kamis (21/3/2019)

Guna mengantisipasi adanya lonsor maupun banjir karena dampak curah hujan yang tinggi sejumlah hal menurutnya perlu diperhatikan seperti drainase air dan reboisasi.

Wahyu memaparkan kajian geologi gerakan tanah dan banjir di Bantul yang terjadi khususnya di kompleks Pemakaman Raja-Raja Jogja, Imogiri, Minggu (17/3/2019). Wahyu menyampaikan gerakan tanah di kompleks pemakaman tersebut secara umum memiliki karakteristik tipe luncuran. Gerakan tanah ini merupakan longsor dengan bidang luncur yang berbentuk kurva melengkung.

Mahkota longsor memiliki lebar kurang lebih 35 meter dan kedalaman kurang lebih 25 meter. Dampak longsoran mencapai sekitar 175 meter dari mahkota longsor. Selain longsor, daerah kajian juga mengalami banjir di sekitar Sungai Celeng.

Ia memberikan rekomendasi untuk tindakan mitigasi bencana gerakan tanah adalah menutup retakan atau tubuh longsor bagian atas dengan material kedap air, membersihkan material yang tidak stabil di sekitar retakan, menata sistem drainase, serta memantau kondisi retakan dan meningkatkan kesiapsiagaan warga sekitar mengenai bencana gerakan tanah.

Ia juga menyarankan untuk permukiman warga sebaiknya dengan radius paling tidak dua kali dari ketinggian lereng. Jika memang ada potensi curah hujan yang tinggi lagi, dikatakannya lebih baik untuk mengungsi terlebih dahulu ke daerah yang lebih aman.

Sementara itu untuk kondisi banjir di Kali Celeng berdasarkan penelitiannya dikatakan curah hujan yang terjadi sangat tinggi yaitu 148 mm/hari pada saat kejadian dan sekitar 400 mm dalam empat hari terakhir.

Kedua lokasi banjir merupakan pertemuan antara anak sungai dengan sungai utama yaitu Kali Celeng. Ketiga volume tubuh Sungai Celeng yang tidak bisa mengakomodasi volume air. Keempat yaitu, sistem drainase yang belum maksimal.

“Untuk mitigasi banjir perlu diperhatikan perbaikan saluran, pembuatan embung atau bendungan. Lalu sumur resapan, reboisasi, kampanye pembuatan jugangan lubang sampah dengan menggali tanah, yang memiliki fungsi ganda sebagai tempat sampah dan resapan,” ucap dia.