Pentingnya Menjaga Jalan Napas Penyandang SMA

Suasana Lokakarya Pernapasan dan Kegawatdaruratan SMA bagi Pengasuh (caregiver) dan Penyandang SMA di Olifant School, Sleman, Minggu (24/3/2019). - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
25 Maret 2019 22:47 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Komunitas spinal muscular atrophy (SMA) Indonesia menggelar Lokakarya Pernapasan dan Kegawatdaruratan SMA bagi Pengasuh (caregiver) dan Penyandang SMA di Olifant School, Sleman, Minggu (24/3/2019).

Kegiatan ini mendatangkan dua pembicara yakni Dian Marta Sari dan Dian Kesumapramudya Nurputra. Ketua Komunitas Spinal Muscular Athropy (SMA) Indonesia Sylvia Sumargi mengungkapkan sering kali para penyandang SMA harus berhadapan dengan kondisi darurat disebabkan makin melemahnya otot-otot pada tubuh, terutama disebabkan oleh masalah pada pernapasan.

"Maka penting bagi orang di sekitar penyandang SMA yakni orang tua atau pengasuh dan penyandang SMA itu sendiri memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang kegawatdaruratan, penanganannya serta perawatan organ-organ tubuh khususnya pernapasan," ujar dia kepada Harian Jogja di Olifant School, Sleman, Minggu (24/3/2019).

Melalui kegiatan ini, para pengasuh dan penyandang SMA akan belajar bagaimana cara melatih otot pernapasan agar sedikit lebih kuat. Pasalnya selama ini kebanyakan yang dilatih adalah otot gerak.

"Padahal kondisi darurat kebanyakan karena lemahnya otot pernapasan. Ini menjadi penting untuk mengetahui apa yang bisa dilakukan oleh pengasuh ketika ada kondisi gawat darurat sebelum ke tenaga medis," jelas dia.

Lokakarya diikuti oleh 50 peserta baik dewasa maupun anak-anak. Peserta pun berasal dari berbagai daerah seperti DIY, Bali, Bogor, Bekasi, Bandung, hingga Mojokerto.

Salah satu pembicara Dian Marta Sari mengungkapkan bagi penyandang SMA, sangat penting untuk menjaga kesehatan jalan napas. "Yang terjadi pada penyandang SMA adalah kelainan genetik, kelemahan otot rangka termasuk mengalami kelemahan otot perbapasan. Akibatnya, para pejuang SMA ini rentan terhadap infeksi saluran napas," kata dia.

Lantaran otot napas yang lemah, maka pasien akan kesusahan mengambil ataupun membuang napas. Kondisi itu semakin lama semakin progresif. "Makanya, kalau enggak dilatih kondisi makin lama makin jelek. Akibatnya pengembangan paru-paru tidak maksimal," jelas dia.

Mariana Hastuti, Head of Creative Development Olifant School mengungkapkan Olifant School sangat mendukung adanya kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan di Olifant ada siswa yang menyandang SMA dan kebutuhan khusus lain.

"Kami bisa banyak belajar dari dokter. Kebetulan di Olifant ada anak berkebutuhan khusus, jadi kami juga belajar di sini. Sehingga isu kebutuhan spesifik mereka terutama di sekolah, kami akan tahu," jelas dia.

Menurut dia, dengan mengetahui kebutuhan itu, sekolah bisa ikut menjaga siswanya. Sekolah juga mengetahui apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan.

"Di sini kami juga ada lift dan kursi roda. Di sekolah ini, kami juga ingin membantu mengembangkan potensi yang mereka miliki," kata dia.