Upaya Preventif Cegah Bunuh Diri Belum Maksimal

Ilustrasi. - Harian Jogja/Nina Atmasari
25 Maret 2019 23:17 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mengakui upaya preventif terkait dengan pencegahan bunuh diri belum berjalan dengan baik. Pemkab perlu dukungan dari berbagai pihak untuk menanggulangi bunuh diri yang terus terjadi di Bumi Handayani.

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Gunungkidul, Sudodo, mengatakan jajarannya terus mengupayakan langkah untuk penanggulangan bunuh diri dengan mengeluarkan peraturan bupati dan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Berani Hidup. “Satgas ini diketuai langsung oleh Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi,” ujar Sudodo, Senin (25/3/2019).

Menurut Sudodo, dilihat dari hasil riset penyebab kejadian bunuh diri banyak di antaranya karena faktor depresi. “Salah satu yang menjadi pemicu depresi seperti ekonomi, sakit menahun, permasalahan sosial dan gangguan jiwa,” kata dia.

Diakuinya, kendala yang dihadapi saat ini adalah tidak memiliki personel atau satuan kerja yang bisa menyasar warga dari rumah ke rumah, terutama untuk mengamati atau deteksi dini gejala di tengah masyarakat yang mengarah pada risiko tindakan bunuh diri.

Dijelaskan Sudodo, pencetus tindakan bunuh diri erat atau merupakan bagian dari permasalahan kesejahteraan sosial. Pemkab sejauh ini memetakan siapa saja yang masuk ke dalam penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), meski demikian pada praktiknya ada masyarakat yang menolak untuk dimasukkan ke dalam PMKS. “Jumlah PMKS di Gunungkidul ada 38.253 orang, sebanyak 18.420 di antaranya adalah lansia terlantar,” katanya.

Ketua Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji), Jaka Yanuwidiasta, mengungkapkan data peristiwa bunuh diri di Gunungkidul sejak 2015 hingga 2017 faktor risikonya karena depresi 43%, sakit fisik menahun 26%, tidak ada keterangan 16%, gangguan jiwa 6%, ekonomi 5%, dan masalah keluarga 4%. “Apabila dilihat dari statistik kejadian, bunuh diri meliputi sebaran kejadian, pola geografis, dan pola kejadian semestinya dapat menjadi pemahaman bahwa kejadian bunuh diri adalah permasalahan sosial,” kata dia.

Berdasarkan data Dinas Sosial Gunungkidul pada 2016 sampai 2018 tercatat 68 orang bunuh diri, sedangkan sampai akhir Maret tahun ini sudah ada 14 kejadian bunuh diri.