Kualitas Kerajinan Kipas Bambu Terus Digenjot

Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Srie Nurkyatsiwi (kanan), saat melihat produk kipas dari bambu di Alifa Craft, Dusun Jipangan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Selasa (23/4). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
23 April 2019 20:02 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Perajin kipas di DIY, terutama Bantul diminta terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) DIY, Srie Nurkyatsiwi, mengaku siap memfasilitasi kebutuhan para perajin kipas dari bambu tersebut. "Sebentar lagi bandara Kulonprogo beroperasi, maka pelaku usaha di Bantul harus mampu bersaing. Harapannya hasil produknya tidak hanya dikenal tingkat lokal tapi juga global, " kata Kepala Dinas Koperasi UKM DIY, Srie Nurkyatsiwi, saat mengunjungi sentra kerajinan kipas di Dusun Jipangan, Desa Bangunjiwo, Kecamaan Kasihan, Bantul, Selasa (23/4/2019).

Dia berharap berbagai produk kerajinan dari Bantul nantinya bisa menghiasi bandara. Selain itu instansinya juga akan berupaya membantu memasarkan produk tersebut.

Namun untuk memenuhi standar tertentu, kata dia, perajin perlu menyesuaikan produknya supaya sesuai segmen. "Saya percaya produksi kipas dari Jipangan ini tidak diragukan lagi tapi kualitas harus terus ditingkatkan, termasuk manajemen usahanya, " kata dia.

Dalam kesempatan tersebut, Srie beserta rombongan mengunjungi tiga lokasi perajin kipas, yakni Banyu Biru Craft, Alifa Craft, dan Surya Souvenir. Masing-masing perajin kipas tersebut mempekerjakan warga sekitar, mulai dari lima orang hingga 30 orang.

Hasil kunjungan tersebut diakui Srie terdapat beberapa persoalan yang perlu ditindaklanjuti, di antaranya peralatan yang sebagian besar masih manual menggunakan pisau pemotong. Menurut dia mesin pemotong diperlukan untuk meningkatkan produktifitas produk dan hasil yang baik. Selain beberapa masih memerlukan akses permodalan.

Selain itu teknik pemasaran juga perlu digenjot agar kipas karya perajin Jipangan tidak hanya dikenal tingkat lokal namun juga nasional. "Kami akan memfasilitasi kebutuhan UMKM ini dengan berbagai lembaga terkait, " ujar Srie.

Sekretaris Dewan Pengurus Nasional (DPN) Asosiasi Business Development Services Indobesia (ABDSI), Cahyadi Joko Purnomo menilai sentra kerajinan kipas Jipangan sudah memiliki modal nama. Setidaknya dalam mesin pencarian Google, nama kerajinan kipas Jipangan sudah muncul di halaman pertama saat memasukkan kata kunci suvenir Jipangan. Selain nama, kata dia, identifikasi potensi, mitra, dan siapa saja yang terlibat juga patut dipertimbangkan. "Jangan sampai jalan-sendiri sendiri, pokdarwis kemana, BUMDes ke mana, komunitasnya ke mana?" kata Cahyadi.

Kepala Desa Bangunjiwo, Parja mengatakan ada sekitar 50 perajin kipas bambu di Dusun Jipangan. Masing-masing perajin mempekerjakan minimal tiga orang. “Ada juga perajin yang mempekerjakan sampai 30 orang. Sehingga sentra kerajinan kipas itu jadi peluang meningkatkan perekonomian dan mengirangi pengangguran,” ucap dia.