Harga Ayam Anjlok, Peternak di Kulonprogo Rugi Puluhan Juta Rupiah

Subardi, 70, memberi makan ayam-ayam di kandangnya di Dusun Kaliwilut, Desa Kaliagung, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo, Rabu (26/6/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
26 Juni 2019 23:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Para peternak ayam broiler di Kulonprogo mendesak pemerintah segera mencari solusi jitu untuk mengatasi terkait anjloknya ayam potong di tingkat produsesn. Mereka khawatir bakal gulung tikar karena satu peternak saja sudah rugi puluhan juta rupiah sejak harga ayam turun drastis.

“Kalau dibiarkan kami jelas bisa gulung tikar, saya saja sudah rugi sampai Rp70 juta sejak harga ayam anjlok,” ungkap salah satu peternak ayam broiler, Atik Mulyati, 55, di kandang ayam miliknya di Dusun Kaliwilut, Desa Kaliagung, Kecamatan Sentolo, Rabu (26/6).

Atik memiliki satu kadang berisi 7.000 ekor ayam. Jika dihitung dengan Harga Pokok Produksi (HPP) Rp18.000 berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan RI nomor 27/M-DAG 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen, sekali panen ia memperoleh pendapatan kotor Rp126 juta. Pemasukan itu kemudian dipotong biaya pembelian benih, produksi dan perawatan, dan juga tergantung berapa banyak ayam yang mati selama proses produksi.

Namun, kini pendapatannya tak sebesar dulu. Bahkan dia mengaku perlu tombok guna menutup pengeluaran biaya operasional. Musababnya harga ayam anjlok di kisaraan Rp 8.000 hingga Rp10.000. Hal itu mulai dirasakannya selepas Lebaran tahun ini.

Kendati begitu, Atik mengaku lebih beruntung karena dirinya sudah bekerja sama dengan sebuah PT peternakan ayam. Lewat kerja sama itu biaya untuk membeli benih sampai operasional dibantu perusahaan tersebut. “Yang paling terasa dampaknya itu para peternak mandiri [tidak kerja sama dengan perusahaan],” ujarnya.

Subardi, 70, pensiunan guru yang menjadi peternak mandiri ini memiliki tiga kandang dengan total 5.000 ekor ayam. Kandang tersebut terletak di depan rumahnya yang masih satu dusun dengan Atik.

Pria yang sudah 30 tahun menjadi peternak ayam ini rugi besar karena seluruh operasional dan produksi ditanggung sendiri. “Apalagi bahan baku tinggi, tidak imbang antara harga jual dengan modal. Untuk kerugian banyak, jika populasi 5.000 ekor ruginya ya Rp-50 jutaan,” kata Subardi.

Jika pemerintah tidak bertindak, dia khawatir usaha ternak ayam bisa bangkrut. Dampaknya tidak ada ayam broiler yang dijual di pasar.

“Antara harga di pasar dan peternak itu sangat jauh. Kan kasian kami. Ada yang jual ayam Rp30.000 sampai Rp40.000. Para pembibit ayam untung, penjual pakan untung, tengkulak untung, pasar untung, sementara kami, peternak, justru yang rugi.”

Menurut Subardi, anjloknya harga ini terkait dengan melimpahnya persediaan ayam. Tidak adanya aturan yang jelas terkait pembatasan breeding juga menjadi faktornya. Dengan begitu, banyak yang sengaja mencari untung yang melimpah tanpa melihat dampak ke belakang.

“Saya pikir dengan pembatasan breeding nanti harga bisa kembali stabil, tak perlulah untung banyak, yang penting semua sektor kebagian.”