Demam Berdarah di Sleman Capai 551 Kasus, Satu Penderita Meninggal Dunia

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
08 Juli 2019 23:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Jumlah demam berdarah dengue (DBD) di Sleman melonjak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat hingga bulan ini terdapat 551 kasus, satu penderita meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo mengaku lonjakan itu cukup signifikan dan di luar dugaan. Pasalnya, saat ini sebagian besar wilayah di Kabupaten Sleman sudah dilanda kemarau. “Sehingga harusnya kan air sudah jarang. Sudah tidak ada genangan air. Lah ini kok jumlahnya malah melonjak,” kata dia Senin (8/7/2019).

Dia mengaku Pemkab sudah memprediksi adanya peningkatan itu. Pasalnya tahun ini masuk dalam siklus empat tahunan DBD di Sleman.

Dia mengatakan hingga semester I/2019, jumlah kasus DBD di Sleman mencapai 551. Dari jumlah itu tercatat ada satu orang meninggal dunia. “Padahal tahun lalu, di Kabupaten Sleman hanya terjadi 144 kasus DBD,” ucap dia.

Oleh karena itu Joko mengimbau agar keluarga yang menyimpan atau menampung air harus waspada karena penampungan air, sesedikit apapun, bisa menjadi sarang berkembangbiaknya bibit nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyebar DBD.

"Masyarakat sering lupa untuk menutup penampungan air, misal bak air. Perlu juga dilakukan larvasida atau abatesasi," katanya.

Dia menjelaskan endemi terbesar DBD di Sleman, masih berada di Kecamatan Depok, Gamping, Mlati, Kalasan, dan Ngaglik. "Lima besar masih di kecamatan itu, namun yang tertinggi selalu di Depok karena penduduk di sana cukup padat. Lalu, keberadaan rumah-rumah di Depok yang tidak dihuni itu biasanya menjadi sarang perkembangan nyamuk," kata dia.

Sebagai salah satu upaya Pemkab Sleman untuk meminimalkan angka kasus DBD, di sejumlah kecamatan saat ini sudah ada satuan tugas (satgas) khusus dari kalangan anak-anak. Sekali dalam sepekan, kata Joko, mereka bertugas memantau jentik nyamuk Aedes aegypti di setiap rumah yang ada di wilayah tugas mereka.

"Kalau di Sleman, TABO namanya. Lalu, di Pakem ada namanya Laskar Uget-uget. Total ada 15 satgas anak yang tersebar di 17 kecamatan," kata Joko.

Bupati Sleman Sri Purnomo, mengimbau kepada masyarakat untuk terus melakukan upaya pencegahan terhadap DBD.

Menurut dia upaya tersebut bisa dilakukan melalui hal kecil seperti membiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan sesuatu. "Dan senantiasa menjaga kebersihan pribadi maupun lingkungan, dan upaya upaya kecil lainnya sebagai permulaan," ujar dia.