Di Sekolah Ini, Unsur Lingkungan Masuk Tiap Mata Pelajaran

Guru SMPN 2 Kokap, Heru Basuki menunjukkan bis beton yang berisi ratusan lele di lingkungan SMPN 2 Kokap, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Rabu (3/7/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
08 Juli 2019 22:47 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Heru Basuki, guru SMPN 2 Kokap, Kulonprogo, berhasil meraih mendapatkan penghargaan Kalpataru tingkat DIY.  Berikut laporan wartawan Harian Jogja Fahmi Ahmad Burhan.

Enam bis beton berjejer kokoh di belakang sekolah. Di dalamnya ratusan lele dibudidayakan. Pipa paralon tersambung dengan enam bis beton berwarna kuning dan biru tersebut, mengalirkan air agar ratusan ikan berkumis itu dapat berkembang biak dengan baik. Sumber air itu berasal dari saluran limbah air wudu. Limbahnya tidak dibuang percuma, tetapi masuk ke enam buah bis beton berisi lele.

Di atas bis beton, kangkung tumbuh berkat kandungan unsur hara dari budi daya lele. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Begitu prinsipnya. Air limbah bisa menghidupi si ikan berkumis. Pun demikian dengan si ikan berkumis, kandungan limbahnya bisa menghidupi si kangkung.

Setiap semester, SMPN 2 Kokap, tempat Heru Basuki mengajar, rutin menggelar perkemahan. Lele-lele yang sudah siap dipanen terkumpul untuk makan-makan.

"Sudah lima tahun kami kembangkan budi daya lele di sekolah ini," ucap Heru kepada Harian Jogja, Rabu (3/7/2019).

Tidak hanya Heru, beberapa siswa pun berbarengan mengelolanya. Hasilnya dinikmati bersama. Tujuannya sederhana, agar limbah air wudu tidak dibuang percuma.

Begitu pun dengan pupuk kompos yang digarap Heru. Setiap hari, sampah di kelas tidak dibuang, tetapi dikumpulkan dan dipilah. Sampah organik dibuat kompos, sedangkan nonorganik seperti plastik dibuat ecobrick. "Ecobrick ini bisa dari sampah plastik, bisa jadi tempat duduk, meja, bisa juga jadi blok bangunan, yang penting sampah tidak terbuang," ucap Heru.

Saban Jumat, sampah di kelas dikumpulkan, ada yang diolah sendiri, ada juga yang dijual. "Kami kerja sama dengan bank sampah sekitaran sini [SMPN 2 Kokap]. Hasilnya dibelikan alat kebersihan," ujar Heru.

Untuk mempercantik sekolah, tanaman puring dengan beragam variasi warna ditanam di tiap sudut.

"Kami target 100 jenis puring di sekolah. Saat ini baru sekitar 25 jenis. Kalau dari jumlah sudah banyak. Puring itu asli tanaman daerah tetapi sudah termasuk langka," ujar pria berusia 52 tahun itu.

Heru sudah 22 tahun mengajar di SMPN 2 Kokap. Ia mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Baginya lumayan mudah menerapkan prinsip mengelola lingkungan melalui mata pelajaran yang ia ampu. Namun, ia ingin semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, diwarnai pengajaran mencintai lingkungan.

Bak gayung bersambut, sekolah pun mempunyai komitmen serupa. Kini, di tiap mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa di SMPN 2 Kokap selalu ada unsur pengelolaan lingkungan dan sampah.

"Misalnya, dalam pelajaran Matematika. Siswa diajarkan mengukur berat sampah," kata lulusan IKIP Yogyakarta yang sekarang jadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu.

Dalam pelajaran bahasa pun sama, baik Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, juga bahasa lokal. Teks yang dikaji merupakan teks yang mempunyai unsur pengelolaan lingkungan. Termasuk juga dalam pelajaran seni budaya. "Dalam pelajaran seni budaya tari di sini diupayakan ada unsur menjaga lingkungan. Ada tari memelihara tanaman kelapa. Karena di Kokap pohon kelapa dianggap sebagai mata pencaharian. Menari seperti mencari kelapa," katanya.

Ia berharap semua unsur pengelolaan lingkungan dan sampah yang ada di SMPN 2 Kokap dapat memberikan pembelajaran berharga bagi siswa. "Siswa paham cara mengelola lingkungan yang benar, termasuk tidak membakar sampah, tetapi memilah dan memanfaatkan sampah," ucapnya.

SMPN 2 Kokap kini menjadi satu-satunya SMP di Kulonprogo yang menjadi sekolah Adiwiyata dengan menerapkan program pembelajaran pengelolaan lingkungan.

Kiprah Heru dalam menerapkan pembelajaran lingkungan hidup di SMPN 2 Kokap akhirnya berbuah manis. Ia mendapatkan penghargaan Kalpataru tingkat DIY, mewakili Kulonprogo setelah melalui berbagai penilaian dan verifikasi pada April lalu.

Heru mendapatkan penghargaan Kalpataru untuk kategori Pengabdi Lingkungan. Warga Dusun Beji, Kelurahan Wates, Kecamatan Wates itu dianggap mampu menstimulus rekan-rekan guru lainnya untuk menyusun perangkat pembelajaran yang mengarah pada pengelolaan lingkungan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 2 Kokap Sukasna mengatakan label sekolah Adiwiyata sudah diemban sekolahnya sejak 2015. "Kini, kami bersiap untuk maju sampai tingkat nasional, ini baru di tingkat provinsi untuk sekolah Adiwiyata," kata Sukasna.

Pembelajaran lingkungan hidup didukung dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diaplikasikan di setiap mata pelajaran. "Kami mengajak siswa juga agar menerapkan pola hidup yang ramah lingkungan, seperti mengurangi sampah. Setiap anak membawa wadah sampahnya sendiri, nanti sampahnya pas jajan itu dimasukan ke wadah," ujar Sukasna.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulonprogo Arif Prastowo berharap warga Kulonprogo yang mendapatkan penghargaan itu tidak berhenti sebatas menerima penghargaan, tetapi terus berjuang bagi kelestarian lingkungan.