Banyak Warga Gunungkidul Becerai, Ini yang Akan Dilakukan Pemerintah

Ilustrasi perceraian - ist/divorceandmoneymatters
15 Juli 2019 19:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Pengadilan Agama Gunungkidul menyoroti masih tingginya angka perceraian. Guna mengurangi kasus ini, bimbingan perkawinan kepada mempelai sebelum menikah akan digalakkan. Untuk pelaksanaan, setiap tahunnya ditargetkan ada 1.200 calon mempelai mengikuti bimbingan.

Data dari pengadilan agama, kasus perceraian di Gunungkidul terus menurun. Meski demikian, dalam tiga tahun terakhir angka perceraian masih menembus 1.000 kasus per tahunnya.

Kepala Seksi Humas Pegadilan Agama Gunungkidul, Barwanto mengatakan, jumlah perceraian masih terhitung tinggi. Hingga akhir Juni sudah ada putusan sebanyak 585 kasus. “Mudah-mudahan tidak lebih banyak dengan putusan di 2018,” kata Barwanto kepada wartawan, Senin (15/7/2019).

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan pengajuan gugatan cerai. Selain masalah ekonomi, perceraian juga disebabkan karena permasalahan keluarga hingga penggunaan media sosial yang menimbulkan keretakan dalam bahtera rumah tangga karena hadirnya orang ketiga.

“Banyak kasus dan latar belakang perceraian berbeda-beda. Misal ketidaksesuaian tinggal saja bisa menjadi penyebab harus pisah. Adalagi peran orang ketiga yang muncul akibat bermain media sosial,” katanya.

Dia menjelaskan, putusan gugatan cerai merupakan langkah terakhir. Bahkan, sambung Barwanto, pada saat proses pengajuan kedua pasangan masih dilakukan mediasi agar mengurungkan niatan tersebut. “Biasanya saat mengajukan permohonan sudah matab bercerai. Memang pada saat mediasi ada yang batal, tapi kebanyakan lanjut ke proses perceraian,” ungkapnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Gunungkidul, Aidi Johansyah mengatakan, pihaknya menyadari kasus perceraian di Gunungkidul masih tinggi. Menurut dia, KUA selaku pihak yang melakukan pencatatan dan pelaksanaan pernikahan juga ikut bertanggungjawab terkait dengan maraknya kasus perceraian.

Dia menuturkan, untuk mengurangi kasus ini, sejak 2018 lalu, kemenag melalui KUA di seluruh kecamatan menggerakan kegiatan bimbingan perkawinan. Menurut Aidi, program ini sudah ada sejak lama, tapi mulai dihidupkan kembali sejak tahun lalu. “KUA tidak hanya menikahkan, tapi juga harus ikut dalam upaya melanggengkan pernikahan. Salah satunya memberikan bimbingan terkait dengan seluk belum rumah tangga bagi calon mempelai,” katanya.

Aidi menuturkan, untuk bimbingan perkawinan, kemenag menargetkan 1.200 pasangan mengikuti program ini setiap tahunnya. “Bimbingan ini diberikan secara gratis dan diselenggarakan di setiap KUA. Harapannya dengan pemberian bekal sebelum menikah bisa melanggengkan pasangan,” katanya. 

Data Perceraian di Gunungkidul

Tahun       Jumlah

2015          1.466 kasus

2016          1.301 kasus

2017          1.264 kasus

2018          1.433 kasus

2019*       585 kasus

*) sampai akhir Juni

Sumber: Pengadilan Agama Gunungkidul