Pengadaan Seragam Dinas Senilai Rp3,7 Miliar di Gunungkidul Dibatalkan
Pemkab Gunungkidul batalkan pengadaan seragam Rp3,7 miliar karena efisiensi dan dialihkan ke program prioritas daerah.
Ilustrasi perceraian/ist-divorceandmoneymatters
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Pengadilan Agama Gunungkidul menyoroti masih tingginya angka perceraian. Guna mengurangi kasus ini, bimbingan perkawinan kepada mempelai sebelum menikah akan digalakkan. Untuk pelaksanaan, setiap tahunnya ditargetkan ada 1.200 calon mempelai mengikuti bimbingan.
Data dari pengadilan agama, kasus perceraian di Gunungkidul terus menurun. Meski demikian, dalam tiga tahun terakhir angka perceraian masih menembus 1.000 kasus per tahunnya.
Kepala Seksi Humas Pegadilan Agama Gunungkidul, Barwanto mengatakan, jumlah perceraian masih terhitung tinggi. Hingga akhir Juni sudah ada putusan sebanyak 585 kasus. “Mudah-mudahan tidak lebih banyak dengan putusan di 2018,” kata Barwanto kepada wartawan, Senin (15/7/2019).
Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan pengajuan gugatan cerai. Selain masalah ekonomi, perceraian juga disebabkan karena permasalahan keluarga hingga penggunaan media sosial yang menimbulkan keretakan dalam bahtera rumah tangga karena hadirnya orang ketiga.
“Banyak kasus dan latar belakang perceraian berbeda-beda. Misal ketidaksesuaian tinggal saja bisa menjadi penyebab harus pisah. Adalagi peran orang ketiga yang muncul akibat bermain media sosial,” katanya.
Dia menjelaskan, putusan gugatan cerai merupakan langkah terakhir. Bahkan, sambung Barwanto, pada saat proses pengajuan kedua pasangan masih dilakukan mediasi agar mengurungkan niatan tersebut. “Biasanya saat mengajukan permohonan sudah matab bercerai. Memang pada saat mediasi ada yang batal, tapi kebanyakan lanjut ke proses perceraian,” ungkapnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Gunungkidul, Aidi Johansyah mengatakan, pihaknya menyadari kasus perceraian di Gunungkidul masih tinggi. Menurut dia, KUA selaku pihak yang melakukan pencatatan dan pelaksanaan pernikahan juga ikut bertanggungjawab terkait dengan maraknya kasus perceraian.
Dia menuturkan, untuk mengurangi kasus ini, sejak 2018 lalu, kemenag melalui KUA di seluruh kecamatan menggerakan kegiatan bimbingan perkawinan. Menurut Aidi, program ini sudah ada sejak lama, tapi mulai dihidupkan kembali sejak tahun lalu. “KUA tidak hanya menikahkan, tapi juga harus ikut dalam upaya melanggengkan pernikahan. Salah satunya memberikan bimbingan terkait dengan seluk belum rumah tangga bagi calon mempelai,” katanya.
Aidi menuturkan, untuk bimbingan perkawinan, kemenag menargetkan 1.200 pasangan mengikuti program ini setiap tahunnya. “Bimbingan ini diberikan secara gratis dan diselenggarakan di setiap KUA. Harapannya dengan pemberian bekal sebelum menikah bisa melanggengkan pasangan,” katanya.
Data Perceraian di Gunungkidul
Tahun Jumlah
2015 1.466 kasus
2016 1.301 kasus
2017 1.264 kasus
2018 1.433 kasus
2019* 585 kasus
*) sampai akhir Juni
Sumber: Pengadilan Agama Gunungkidul
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul batalkan pengadaan seragam Rp3,7 miliar karena efisiensi dan dialihkan ke program prioritas daerah.
Libur sekolah 2026 diprediksi mendongkrak wisata Karanganyar. The Lawu Group perketat keamanan, hadirkan promo, dan optimistis kunjungan meningkat.
Investigasi mengungkap dugaan hacker Rusia berada di balik peretasan Jaguar Land Rover yang menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar.
Prabowo Subianto mengungkap pertanyaannya kepada profesor tentang gandum, sawit, dan industri mobil Indonesia dalam Sarasehan Kebangsaan.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.