DUGAAN ANTRAKS : Kematian Ternak Kembali Terjadi di Gunungkidul, Bangkai Sapi Disiram Formalin

Ilustrasi. - Solopos/Ardiansyah Indra Kumala
17 Juli 2019 17:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Hariajogja.com, GUNUNGKIDUL– Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul tak mau ambil risiko terkait dengan kematian ternak warga. Selain mengubur bangkainya, juga diambil sampel untuk memastikan kematian hewan tersebut.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, pihaknya mendapatkan laporan terkait dengan sapi mati di Dusun Ngagel, Karangmojo, Kecamatan Karangmojo pada Rabu (17/7/2019) pagi. Laporan ini ditindaklanjuti dengan mendatangi lokasi untuk dilakukan pemeriksaan.

Menurut dia, jika dilihat dari ciri-ciri, sapi yang mati bukan karena penyakit antraks. Hal ini diperkuat dengan kondisi kandang yang kurang terawat karena kebersihannya tidak terjaga sehingga beroptensi menjadi sumber penyakit. “Dari cirri fisik, sapi mati karena dikerubungi lalat penghisap darah. Besar kemungkinan sapi mati karena kondisi kandang yang tidak terawat sehingga menjadi sumber penyakit,” ujarnya.

Meski ciri-ciri kematian jauh dari penyakit antraks, namun petugas tidak mau mengambil risiko. Bambang menjelaskan, setelah pemeriksaan, bangkai sapi langsung dikuburkan. Selain itu, di lokasi penguburan juga disiram formalin 10%. “Biar aman dan tidak menjadi sumber penyebaran penyakit lain,” ungkap mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan ini.

Guna memastikan penyebab kematian sapi, kata Bambang, petugas telah mengambil sampel untuk diteliti di laboratorium Balai Besar Veteriner Wates. “Kita tunggu hasilnya dan yang jelas, untuk pencegahan penyebaran penyakit hewan sudah diterapkan prosedur yang ketat,” katanya.

Menurut dia, hingga saat ini penyebaran penyakit antraks belum meluas dan masih di seputaran Dusun Grogol IV, Desa Bejiharjo. “Kita sudah ambil sampel di tempat lain dan hingga sekarang hasilnya negative. Untuk antisipasi juga sudah memberikan vaksin anti antraks,” imbuhnya.

Kepala Seksi Kesehatan Veteriner, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, langkah paling efektif mencegah penyebaran penyakit pada ternak yang mati mendadak dengan cara mengubur. Menurut dia, cara ini paling efektif karena bakteri di dalam tubuh hewan tidak akan keluar dan akan mati seiring membusuknya bangkai hewan yang dikubur. “Kalau disembelih malah akan berbahaya dan potensi penyebaran penyakit akan lebih luas. Sebagai contoh untuk kasus antraks bisa menyebar bersamaan dengan darah hewan yang disembelih,” katanya.

Untuk mencegah penyebaran antraks di wilayah Gunungkidul, selain terus berupaya melakukan pencegahan dengan pemberian vaksin terhadap hewan ternak, dinas pertanian dan pangan juga akan mensosialisasikan ke tentang imbauan tidak menyembelih hewan mati mendadak. “Kita sosialisasikan agar hewan mati mendadak untuk dikubur guna mengurangi potensi penyebaran penyakit,” kata Retno.