Pasar Kangen yang Bikin Kangen

Salah satu sudut area Pasar Kangen di Taman Budaya Yogyakarta, saat hari penutupan event tersebut, Sabtu (20/7 - 2019)
22 Juli 2019 06:07 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Antusiasme masyarakat mengunjungi kegiatan tahunan Pasar Kangen di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sangat tinggi. Sejak dibuka Jumat (12/7/2019) lalu hingga ditutup Sabtu (20/7/2019) malam, puluhan ribu orang mendatangi kegiatan ini. Apa yang menyebabkan orang ke Pasar Kangen? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Budi, dengan ramah menawarkan Clorot di Pasar Kangen Jogja. Untuk satu bungkus Clorot, dia hanya menawarkan Rp2.000 saja. Budi bersemangat karena Sabtu adalah hari terakhir dia berjulan di Pasar Kangen. "Harganya murah," kata Budi.

Clorot, sebenarnya panganan khas asal Purworejo. Bentuknya mirip dodol Garut. Tetapi teksturnya jelas berbeda. Clorot dibuat dari paduan tepung ketan dan gula aren. Panganan tradisional ini dibungkus menggunakan janur sebelum dikukus.

Tak hanya Budi, ratusan penjaja stan di Pasar Kangen seperti tak kenal lelah. Silih berganti mereka melayani pengunjung yang datang. Nyaris tak ada stan yang sepi. Orang-orang yang datang ke Pasar Kangen seperti "melampiaskan" sesuatu. Mereka seperti bernostalgia dengan aneka ragam kuliner tempo dulu.

Rasanya sangat jarang di telinga nama-nama penganan khas seperti clorot, geblek, kue corobikang, gulali, aneka panganan deso dan sebagainya. Pasar kangen yang digelar setahun sekali pun menjadi pelampiasan orang untuk mengobatinya. Begitu juga dengan para pengisi stan yang tak mau ketinggalan.

Pramono misalnya, sudah 12 tahun menjajakan beragam uang kuno. Tidak hanya uang rupiah yang dicetak Bank Indonesia, uang-uang lawas dari berbagai belahan dunia dia koleksi. Harga yang ditawarkan di Pasar Kangen juga murah. "Paling murah Rp10.000 dapat tiga lembar uang kuno," katanya.

Sejak sore, pengunjung Pasar Kangen sudah memadati area pasar. Semakin malam jumlah pengunjung kian memadati TBY. Tak hanya orang tua, pengunjung yang datang juga didominasi anak-anak muda. Selain menikmati sajian tempo dulu, mereka juga disuguhkan penampilan berbagai macam hiburan. Seperti jatilan, gejog lesung, ketoprak dan hiburan zaman dahulu lainnya.

Konsep Pasar Kangen tahun ini memang tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan ini melibatkan banyak perajin, pelaku usaha kuliner hingga seniman. Selain menyajikan kuliner tempo dulu yang langka, banyak karya seni dan kerajinan yang unik dipasarkan di even ini. "Pada dasarnya, Pasar Kangen bagian dari nguri-uri kabudayan yang sudah ada di Jogja," ujar Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho.

Tahun ini, panitia menghadirkan 117 stan kuliner tradisional dan 93 stan barang kerajinan. Di sela-sela pengunjung bernostalgia dengan panganan tradisional, mereka juga akan dihibur dengan beragam pertunjukan kesenian tradisional. Total ada sekitar 32 kelompok seni yang tampil di panggung.

Aris mengaku antusiasme masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan tersebut sangat tinggi. Sebanyak 215 stand yang ada berasal dari sekitar 1.500 pendaftar. Panitia kemudian menyaring dan memilih ragam usaha untuk mengisi stand yang disediakan. "Ini bukti warga sangat antusias dengan Pasar Kangen," katanya.

Perpaduan

Koordinator Lapangan Pasar Kangen, Wasdiyana menambahkan konsep pasar ini memadukan antara kesenian tradisi dan kuliner tradisi yang ada di Jogja. Beberapa makanan tradisional dan autentik tempo dulu yang dihadirkan di antaranya gethuk, lempeng juruh, geblek tempe, pepes, atau bothok. "Yang masuk ke sini harus memenuhi syarat. Makanan tradisional yang benar-benar memenuhi kriteria baik bahan, peralatan, maupun cara pembuatannya. Produk makanan kemasan dan franchise tidak bisa masuk," katanya.