Letak Lapak Diubah Jadi Ungkur-Ungkuran, PKL Malioboro Protes

Ketua Koperasi Tri Dharma, Mudjiyo (dua dari kiri) didampingi LKBH Pandawa mendatangi Kantor Wali Kota Jogja untuk audiensi, Senin (22/7/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
22 Juli 2019 13:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Rencana penataan letak lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) di sisi barat Malioboro secara ungkur-ungkuran (saling membelakangi) diprotes para pedagang yang tergabung dalam Koperasi Tri Dharma Jogja.

Ketua Koperasi Tri Dharma, Mudjiyo, mengaku khawatir jika kebijakan tersebut diterapkan maka ruang yang dimiliki PKL semakin sempit. "Kami juga akan kesulitan dalam menata dagangan, kalau ada yang beli, nanti kami melayaninya susah," ujarnya kepada wartawan, Senin (22/7/2019).

Mudjiyo menjelaskan saat ini setiap pedagang anggota Koperasi Tri Dharma telah mengantongi izin dari Wali Kota Jogja terkait dengan penggunaan lapak seluas 1,5 x 1,5 meter. Dengan sistem saling membelakangi, pedagang diakui dia tak lagi mendapat ruang seluas itu lantaran terpotong trotoar pejalan kaki.

Bahkan sebelum penataan, banyak pedagang sudah kehilangan sebagian ruang lapaknya akibat digunakan sebagai penambahan akses masuk toko. Mudjiyo menyebutkan beberapa pedagang hanya memiliki dua tegel atau 30 sentimeter.

Dalam konsep penataan tersebut, imbuh dia, pedagang anggota Koperasi Tri Dharma akan ditempatkan di depan menghadap jalan, sementara pedagang lain di belakangnya. Ia khawatir jika ruang yang semula ditempati pedagang jadi kosong justru diisi pedagang baru lagi. "Apa pemerintah bisa menjamin tidak ada pedagang yang baru lagi?" ujar dia.

Mudjiyo menjelaskan anggota Koperasi Tri Dharma saat ini berjumlah sekitar 920 pedagang yang terbagi ke dalam 27 kelompok dan tersebar di sepanjang Malioboro. Mereka kebanyakan telah berdagang secara turun temurun. “Kebijakan ungkur-ungkuran ini memang masih hal baru dan belum pernah diujicobakan,” ucap dia.

Wali Kota Jogja, Haryadi suyuti, mengaku bakal menjamin tidak akan ada pengurangan jumlah pedagang. "Kami hanya menata, bukan menggusur. Dengan harapan Malioboro tambah rapi, tambah banyak pengunjungnya menikmati Malioboro," kata dia.

Dia pun mengaku sudah lama menyosialisasikan soal penataan itu kepada para pedagang. Soal ruang pedagang yang semakin sempit, menurutnya wajar. Pasalnya Malioboro memang sudah sempit, jadi tidak mungkin diperlebar. "Kami mengurangi volume gerobak. Kalau lebih kecil lebih rapi kan pengunjung jadi nyaman," kata Wali Kota.

Dia menilai jika pedagang menolak dengan alasan semakin sepi, itu terlalu dini karena justru dengan kebijakan ini Pemkot berharap Malioboro semakin ramai. Ia mengungkapkan penataan ini telah disiapkan dengan matang dan akan diterapkan secepatnya.