Antisipasi Kebakaran di Gunung Merapi, Balai TNGM Intensifkan Patroli

Api menjalar di sisi timur laut Gunung Lawu terlihat dari Desa Cepoko, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat (24/8/2018) malam. - ANTARA FOTO/Siswowidodo
10 Agustus 2019 04:17 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) mengintensifkan patroli untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Merapi pada puncak musim kemarau Agustus ini.

Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Taman Nasional wilayah 1 BTNGM Wiryawan mengatakan patroli rutin yang dilakukan tersebut dilakukan petugas dengan menggandeng aparat kepolisian maupun Masyarakat Mitra Polhut (MMP).

“Patroli dengan menyisir lokasi yang rawan terjadinya kebakaran, seperti Jurangjero, Srumbung, di wilayah Magelang, dan Cangkringan, Pakem, dan Turi diwilayah Sleman,” kata Wiryawan saat dihubungi Jumat (9/8/2019).

Selain itu, ia mengatakan, di wilayah sekitar lereng Merapi, sudah ada kelompok masyarakat sadar wisata yang membantu petugas untuk mengantisipasi dan menginformasikan jika suatu waktu terjadi kebakaran.

“Dengan adanya kelompok masyarakat itu efektif,” kata dia.

Ia mengungkapkan, dalam pekan ini, terjadi satu kali kebakaran hutan seluas 25 meter persegi di wilayah Jurangjero, masyarakat yang mengetahui langsung inisiatif untuk memadamkan api sembari menunggu petugas datang.

“Itu penyebab kebakaran belum diketahui,” ucap dia.

Untuk memadamkan api, kata dia, pihaknya mengandalkan peralatan seperti gepyok, pompa punggung, dan mobil pemadam kebakaran.

“Mobil pemadamnya ada satu unit, sejauh ini peralatan yang ada mencukupi, karena juga dilengkapi dengan puluhan sepeda motor untuk patroli,” ujar dia.

Kasi Operasional dan Investigasi UPT Pemadam Kebakaran Sleman, Suwandi mengatakan hingga akhir Juli, sudah ada 66 kejadian kebakaran di Sleman. Jumlah tersebut mengalami penurunan jika dibanding Juli 2018 yang berjumlah 71 kejadian kebakaran.

“Tidak ada korban jiwa baik 2018 maupun 2019, kerugian hanya materi,” ucap dia.

Ia mengatakan, mayoritas kebakaran terjadi di lahan pekarangan maupun rumah-rumah warga.

“Kalau yang kebakaran pekarangan biasanya terjadi karena membakar sampah, namun apinya belum benar-benar padam. Kalau yang kebakaran rumah didominasi karena korsleting listrik dan maupun kelalaian masyarakat,” kata dia.