Kampung Klitren Tuntaskan Kekumuhan Tahun Ini

Lurah Klitren Zaenuri saat meresmikan Kampung Sayur "weda asri" di Klitren Lor, Minggu (19/8/2019). - Ist/Dok
21 Agustus 2019 07:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Kelurahan Klitren Kecamatan Gondokusuman bertekad lepas dari kekumuhan tahun ini. Seluruh proyek fisik mengupas kesan kumuh diselesaikan tahun ini.

Lurah Klitren Zaenuri mengatakan saat ini proses pasangan paving blok untuk akses jalan lingkungan sedang dilakukan. Selain itu, pengerjaan Sistem Pemanfaatan Air Hujan (Spah) dan sumur resapan juga sedang berlangsung. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan lepas dari kekumuhan. "Tahun ini, fisik infrastrukturnya kami tuntaskan," katanya kepada Harianjogja.com, Selasa (20/8/2019).

Dijelaskan Zaenuri, kawasan kumuh di kelurahan ini masih terlihat di RW 1, 3, 4, 6, 7 dan 8. Tahun ini, penuntasan proyek fisik untuk menghilangkan kesan kumuh dilakukan di RW 3 dan 4 untuk pemasangan paving blok sepanjang 508 meterpersegi. Dananya berasal dari Program Kotaku sekitar Rp2 miliar. "Tapi dana tersebut belum mencukupi, nanti kami bantu dengan Dana Kelurahaan," katanya.

Sebelumnya, katanya, pembangunan jalan inspeksi untuk RW 1 di kelurahan Klitren masih dalam proses penyelesaian. Pembangunannya melibatkan swadaya masyarakat dan Dinas PUP-KP Jogja. Masyarakat menerapkan konsep mundur madep kali untuk membuat jalan inspeksi. Selain pemasangan paving dan pembuatan saluran air hujan. "Tahun ini ditargetkan selesai. Kami targetkan 0% kekumuhan pada tahun ini," katanya.

Menurut Zaenuri, rumah-rumah penduduk yang ada di bantaran Kali Belik tersebut menjadi pilot projek penataan Kali Belik atau Kali Mambu. Dengan begitu, diharapkan seluruh pemukiman di bantaran Kali Belik juga menerapkan hal yang sama.

Kali di sepanjang pemukiman tersebut akan diperlebar satu meter, kemudian ditopang dengan sebagian jalan inspeksi. Di sepanjang jalan tersebut juga dilengkapi dengan saluran IPAL.

"Ini tidak hanya bisa keluar dari predikat kumuh, tapi lebih dari itu adalah peningkatan kualitas hidup. Sebab selain jalan inspeksi juga dibangun sanitasi dan neonisasi," kata Zaenuri.

Jika penataan lingkungan selesai, lanjut dia, diharapkan bisa memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tidak kalah penting lagi, kata Zaenuri, masyarakat yang selama musim hujan selalu kebanjiran diharapkan tidak lagi mengalami hal yang sama.

"Nah tugas kami yang berat adalah mengubah perilaku hidup masyarakat. Seperti tidak membuang sampah ke kali. Penyadaran ini akan kami lakukan agar kualitas lingkungan bisa meningkat," katanya.

Terpisah, Kepala Bidang Perumahan Permukiman dan Tata Bangunan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Sigit Setiawan mengatakan dalam waktu dekat pihaknya juga akan membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di wilayah Klitren. Rencana pembangunan IPAL komunal tersebut akan dilaksanakan di RW 1.

"Tujuan pembangunan IPAL Komunal ini untuk mengatasi permasalahan limbah di kawasan tersebut. IPAL komunal dibangun juga bagian dari penataan kawasan dan permukiman di sungai," katanya.

Sebagian besar permasalahan di Klitren, katanya, adalah pengelolaan limbah. Masih banyak warga yang memilih membuang limbah rumah tangga mereka secara langsung ke sungai tanpa diolah terlebih dulu. Akibatnya, embung Langensari terkadang masih mengeluarkan bau yang tidak sedap. Warga sudah bersedia melakukan penataan permukiman dengan memundurkan rumah dari tepi sungai dan memberikan jarak sekitar tiga meter untuk pembangunan IPAL komunal.

"Kalau IPAL sudah dibangun, kami harapkan tidak ada lagi bau tidak sedap di embung. Lelang pembangunan IPAL dalam proses dan pekerjaan fisik dimulai sejak Juli dengan target selesai sekitar November," katanya.