Jogja Siap Pecahkan Rekor MURI 1.000 Difabel Tuli
Jogja akan jadi lokasi pemecahan rekor MURI 1.000 difabel tuli sekaligus seminar kebangsaan disabilitas oleh KND.
Anak-anak Paud Kecamatan Mergangsan membuat gethuk dalam Gebyar Paud Kota Jogja, di GOR Amongrogo, Kamis (29/8/2019). /Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA- Gethuk merupakan salah satu kuliner tradisional yang kerap dijumpai di pasar atau pusat oleh-oleh di Jogja. Cemilan berbahan ketela atau singkong ini telah menjadi budaya bagi masyarakat Jawa, khususnya di Kota Jogja.
Untuk mempertahankan budaya makan gethuk agar tidak punah, pengelola pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kecamatan Mergangsan mengajak anak-anak didiknya untuk mengolah dan merasakan gethuk. Mereka dikenalkan pada kuliner jawa yang memiliki rasa khas ini.
Pengurus Ikatan Guru TK Mergangsan, Vitdru A.Tomohona, mengatakan gagasan pengenalan gethuk pada anak-anak ini dilatarbelakangi oleh adanya pasar yang sudah terkenal di Mergangsan, yakni Pasar Telo. Di sana dijual berbagai macam ketela dan menjadi rujukan bagi masyarakat Jogja yang hendak mengkonsumsi atau mengolah ketela.
Ia melihat ketela telah menjadi salah satu potensi Kecamatan Mergangsan dan sudah semestinya dikembangkan, tak terkecuali untuk anak-anak. "Meski ada Pasar Telo, tapi di Mergangsan masih sedikit yang mengolahnya menjadi gethuk," katanya pada Harian Jogja, Kamis (29/8/2019).
Ia menjelaskan untuk membuat gethuk sangatlah mudah. Beberapa bahan yang diperlukan diantaranya singkong atau ubi, kelapa parut, daun pandan, garam dan gula. Untuk pengajaran kepada anak-anak, ia menggunakan semua jenis ketela dan singkong. "Biar tahu apa perbedaannya, bagaimana rasanya," katanya.
Cara membuatnya cukup sederhana, pertama singkong dikupas, lalu dikukus selama setengah jam dengan diberi daun pandan secukupnya. Lalu singkong dicampur parutan kelapa, gula dan garam secukupnya.
Singkong yang telah dicampur lalu ditumbuk dan diuleni. Setelah cukup lunak, maka tahap akhirnya adalah dibentuk dengan mengggunakan cetakan. "Anak-anak kami ajari bagaimana cara menumbuk, kalau kurang lama mereka nanti akan merasakan keras, jadi tahu apa kurangnya," katanya.
Ia berharap dengan pengajaran ini dapat mempertajam nalar anak-anak. Mereka jadi tahu bagaimana proses mempengaruhi hasil. "Kalau numbuknya tidak benar jadinya kurang halus. Ada juga yang tidak halus, terus dia bertanya kenapa bisa jadi begini bu?" Katanya.
Kabid Pendidikan Non Formal dan Paud Dinas Pendidikan Kota Jogja, Sugeng Mulyo Subroto, mengatakan gethuk termasuk dalam makanan tradisional yang perlu dikenalkan kepada anak-anak. "Di Jogja, Klaten, Solo ada, mungkin jenisnya berbeda, tapi bahannya semua dari ketela," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja akan jadi lokasi pemecahan rekor MURI 1.000 difabel tuli sekaligus seminar kebangsaan disabilitas oleh KND.
BNPB memastikan tidak ada korban jiwa akibat karhutla di Aceh, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Simak kronologi dan penanganannya.
Sebanyak 20% SD Negeri di Sleman belum memenuhi kuota rombel SPMB 2026. Disdik memperkuat pendidikan agama dan mengkaji opsi regrouping sekolah.
Refleksi Yogya Kembali mengajak masyarakat meneladani nilai perjuangan untuk memperkuat ketahanan keluarga dan generasi muda DIY.
Harga sawi sempat anjlok hingga Rp500 per kg. KWT Sehati Magelang mengolahnya menjadi keripik Kraukk! bernilai jual lebih tinggi.
Disdikpora Kota Jogja memperkuat pembinaan Pemuda Pelopor dan program YES BOSS untuk mencetak generasi muda inovatif dan berdaya saing.