Minat Kaum Muda untuk Menjadi Petani Masih Rendah

Dua orang petani di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, menanam padi, belum lama ini. Banyaknya sumber air membuat petani di wilayah Ponjong bisa menanam padi sebanyak tiga kali dalam setahun. - Harian Jogja/David Kurniawan
08 September 2019 19:17 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kaum muda di Kabupaten Gunungkidul kurang berminat menjadi petani. Salah satu faktor yang memengaruhi ialah rendahnya penghasilan dan lamanya menunggu waktu panen.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan guna menarik minat kaum muda sekaligus membantu efisiensi dalam pengolahan lahan, jajarannya memberikan alat mesin pertanian (alsintan) kepada sejumlah kelompok tani. "Kalau alatnya tradisional mereka [kaum muda] semakin tidak tertarikuntum bertani," ucapnya, Minggu (8/9/2019).

Menurut dia, setelah menerima bantuan alsintan, setiap kelompok tani mempunyai usaha pelayanan jasa alat mesin. Tujuan dibentuknya upjam yakni untuk melibatkan anak muda menjadi mekanik atau operator. "Misalnya alat pemipil jagung saat musim panen," katanya.

Bambang menjelaskan secara hasil, penghasilan petani tidak kalah dengan pekerjaan lain. Meski demikian, bekerja sebagai petani butuh keuletan. Terlebih selama ini petani selalu identik dengan kotor lumpur, panas dan lainnya. Hal ini berbeda dengan pekerjaan sebagai pelayan toko. Belum lagi saat ini di Gunungkidul banyak anak muda yang memilih bekerja di sektor pariwisata. "Jadi pemandu wisatawan langsung dibayar, kalau petani harus menunggu hingga panen dulu," katanya.

Untuk menarik minat kaum muda bekerja sebagai petani, DPP Gunungkidul menggandeng SMA Negeri 2 Playen dengan membentuk komunitas generasi cinta pertanian. Dengan anggota sekitar 50 pelajar, mereka diajak belajar panen hasil pertanian. Dengan begitu diharapkan memunculkan minat anak muda agar mau menjadi petani.

Kepala Seksi Program DPP Gunungkidul, Budiyono, menyebut jumlah kelompok tani di Gunungkidul saat ini tercatat sebanyak 3.150. Adapun pembagiannya terdiri dari kelompok tani pemula, lanjut, madya, dan utama. "Ada empat kategori," katanya, Minggu.

Budiyono menjelaskan kelompok tani pemula baru tumbuh selama dua tahun. Setiap kategori berdasarkan penilaian terkait dengan manajemen, teknis, dan administrasi. "Nilainya untuk pemula dari 0-250; kelompok lanjut 251-500; madya 501-750; dan utama 751-1.000. Setiap tahun kami melakukan penilaian," katanya.