Kulonprogo Cetak 40 Hektare Sawah Baru

Petani di Kulonprogo. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
15 September 2019 19:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Kulonprogo mencetak sawah baru seluas 40 hektare (ha) di Kecamatan Nanggulan, Kalibawang, dan Samigaluh. Program Cetak Sawah Baru itu ditargetkan rampung maksimal November 2019.

"Kami mengejar sebelum November sudah bisa cetak, biar tidak tabrakan dengan musim penghujan, karena kalau hujan, proses pembukaan lahan bisa terganggu, selain itu kami coba gerak cepat agar lahan bisa segera ditanami sesuai tujuan program ini yakni meningkatkan produksi tanaman padi, palawija dan sejenisnya di Kulonprogo," kata Kepala Distanpangan Kulonpogo, Aris Nugraha, Minggu (15/9/2019).

Aris menerangkan, sawah baru itu akan dikelola oleh empat kelompok tani yaitu Kelompok Tani Danurejo, Dusun Brangkal, Desa Banyuroto, Kecamatan Nanggulan, dengan lahan seluas 13 ha; Kelompok Tani Maju Tresno, Dusun Tanggulangin, Desa Tanjungharjo, Kecamatan Nanggulan, dengan lahan seluas delapan hektare; P3A Tirto Rahayu, Dusun Promasan, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, dengan lahan seluas 13 ha dan Kelompok Tani Sidodadi, Dusun Ngaran 2, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh dengan lahan seluas enam hektare.

Pemilihan kelompok tani berdasarkan proposal permintaan kelompok atau laporan pihak-pihak lain, mulai dari anggota DPRD Kulonprogo, penyuluh pertanian maupun pemerintah desa dan kecamatan setempat. Setelah laporan diterima, jajarannya melakukan survei di lapangan atau disebut Survei Investigasi Desain (SID). Jika hasil di lokasi memenuhi syarat SID seperti ketersediaan air dan adanya sumber daya manusia (SDM) pengelola lahan, maka program bisa dilakukan. "Jadi tidak semua lokasi bisa menjadi lahan persawahan, untuk mengetahui potensinya ada proses SID yang harus dilalui, nah kami lihat di empat kelompok itu sudah memenuhi kriteria," ujarnya.

Terhadap empat kelompok itu, Distanpangan memberi sosialisasi secara bergiliran. Dalam sosialisasi yang diikuti oleh perwakilan pemerintah kecamatan dan desa, pengurus kelompok diminta membentuk panitia khusus. Panitia ini bertugas mengelola dana stimulan program cetak sawah yang total nominalnya mencapai Rp505 juta, tapi yang mereka peroleh tergantung luas lahan yang digarap.

"Harapan kami kegiatan ini sifatnya partisipatif, warga berperan aktif, jadi anggaran stimulan ditransfer ke rekening kelompok, sehingga mereka wajib membuat kepanitiaan dan perencanaan," kata Aris.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Distanpangan Kulonprogo, Tri Hidayatun, menambahkan program cetak sawah baru gencar dilakukan. Selain untuk meningkatkan produksi tanaman, juga sebagai upaya mengganti lahan sawah yang berkurang akibat alih fungsi lahan.

Dia memaparkan laju alih fungsi lahan di Kulonprogo meningkat drastis semenjak dibangunnya Yogyakarta Internasional Airport (YIA). Sejak 2010 sampai 2016 atau sebelum bandara dibangun, rata-rata alih fungsi lahan hanya berkisar dua sampai 14 ha. Tapi pada 2017, melonjak hingga 243 ha yang mayoritas di kawasan pembangunan YIA.

"Kami berupaya mengganti lahan persawahan yang dialihfungsikan lewat Program Cetak Sawah Baru, tercatat dari target kami 350 ha, sekarang sudah mencapai 135 ha, tahun ini dipastikan bertambah menjadi 175 ha karena ada penambahan 40 ha di Nanggulan, Kalibawang dan Samigaluh," katanya.