Program Ketahanan Pangan, 26 Kelompok Wanita Tani Dibentuk

GKR Hemas saat berkunjung ke kebun milik KWT Marsudi Mulyo yang mengembangkan program KRPL di area pekarangan rumah di Dusun Wukirsari, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari, Rabu (14/8/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
16 September 2019 20:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian Pangan (DPP) Gunungkidul berupaya mengembangkan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) melalui kelompok wanita tani (KWT). Total hingga sekarang sudah ada 135 kelompok dan rencananya ditambah sebanyak 26 kelompok.

Kabid Ketahanan Pangan DPP Gunungkidul, Fajar Ridwan, mengatakan program KRPL memiliki peran besar dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan di masyarakat. Menurut dia, pengembangan KRPL dilakukan dengan pembentukan KWT yang jumlahnya hingga saat ini mencapai 135 kelompok. “Akan terus dikembangkan dan tahun ini ditambah 26 kelompok,” kata Fajar, Senin (16/9/2019).

Dia menjelaskan pengembangan KRPL tidak banyak membutuhkan lahan karena upaya budi daya bisa memanfaatkan perkarangan di sekitar rumah. Adapun jenis tanaman yang dikembangkan selain tanaman obat, sayur-syuran hingga buah-buahan. “Untuk pengembangan dengan menggunakan sistem aquaponik dan hidroponik,” tuturnya.

Program KRPL ini tidak hanya bermanfaat dalam upaya memaksimalkan lahan di sekitar rumah, namun di sisi lain juga sebagai cara menekan pengeluaran. Pasalnya, dengan berbagai jenis tanaman yang dipelihara dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. “Ya kalau butuh tinggal petik sehingga pengeluaran bisa ditekan. Selain itu, program ini jugsa sebagai upaya pemberdayaan kelompok perempuan, khususnya ibu-ibu,” kata Fajar.

Salah seorang anggota KWT di Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari, Sutampi, mengakui program KRPL memberikan manfaat. Budi daya yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat untuk mencukupi kebutuhan pangan di masyarakat.

Menurut dia di dalam proses budidaya banyak tanaman sayuran dan buah-buahan yang ditanam. Keuntungan lain dari program ini, lokasi lahan yang dibutuhkan tidak luas karena bisa ditanam di sekitar rumah. “Teknologinya sudah ada dan tinggal pemeliharaan. Kami beruntung karena bisa menyulap pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan buah-buahan,” katanya.