50 Siswa dan Guru Disiapkan Jadi Duta Pencegahan Narkoba

Peserta sosialisasi Sadar Bahaya Narkoba berfoto bersama di Hotel Royal Ambarrukmo, Rabu (18/9/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi.
18 September 2019 19:47 WIB Gigih M Hanafi Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 50 siswa dan guru perwakilan berbagai SMA/SMK di DIY disiapkan untuk menjadi duta pencegahan narkoba. Program ini diinisiasi Kanwil Wilayah (Kanwil) BRI Yogyakarta dengan menggandeng Disdikpora DIY dan BNNP DIY. Para duta tersebut diberikan sosialisasi Sadar Bahaya Narkoba di Hotel Royal Ambarrukmo, Rabu (18/9/2019).

Pemimpin Wilayah BRI Yogya Dedi Juhaeni menjelaskan program pencegahan narkoba itu sebagai bentuk kepedulian BRI Kanwil Yogyakarta terhadap bahaya narkoba terutama di kalangan pelajar. Program itu sudah rutin berjalan dan sedikitnya telah berjalan lima periode pelatihan. Jumlah yang disiapkan menjadi duta saat ini memang terbatas baru bisa menjangkau 50 guru dan siswa.

“Setiap tahun kami lakukan karena bentuk keepdulian BRI, maunya kita memang semua [sekolah], tetapi ada keterbatasan sehingga kami pilih 50 yang jadi duta, dari peserta 50 itu guru dan siswa menjadi wakil agar mensosialisasikan bagaimana kita menyadari bahaya narkoba,” terangnya.

Pihaknya sengaja menyasar SMA/SMK karena dinilai paling tepat sebagai duta, sekaligus sebagai sasaran pencegahan karena narkoba paling banyak menyasar usia SMA. Ia berharap dari 50 duta tersebut bisa mensosialisasikan kepada sekolah masing-masing terkait bahaya narkoba.

“Kami melihatnya yang rawan itu SMA, kami berharap semua bisa termasuk SMP, tetapi SMA itu tepat, bisa menularkan kepada adik-adiknya usia SMP mungkin di rumah, maka kAMI ambil titik SMA paling tepat mereka menjadi duta, wakil untuk mensosialisasikan,” ujarnya.

Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan penanganan narkoba memang butuh banyak sisi termasuk akademik. Apalagi upaya menyadarkan anak dari penyalahgunaan narkoba merupakan bagian dari pengembangan karakter anak. Pihaknya menempatkan pencegahan itu sebagai program yang paling pokok untuk dilakukan di dunia pendidikan.

“Mereka yang diundang hari ini sudah bertugas menjadi penyuluh bahaya narkoba di sekolahnya, dan kami tambahi pengetahuan baik secara teknis serta strategi penyebaran narkoba. Karena penyebaran antara SMA berbeda dengan SMK. Guru pendamping rata-rata waka kesiswaan guru BK karena itu paling tahu kondisi di sekolah,” katanya.

Aji meminta kepada guru pendamping untuk bisa berkoordinasi dengan Disdikpora DIY serta BNNP ketika mengidentifikasi ada penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar agar bisa segera dicegah. Ia mengingatkan, sekolah memiliki tanggungjawab dalam pencegahan narkoba pada siswa. Oleh karena itu, sekolah tidak diperbolehkan mengeluarkan siswa yang terjerat kasus narkoba.

“Anak yang sudah baik tidak terkena narkoba kemudian masuk di suatu SMA tetapi kemudian terkena narkoba ya jangan dikeluarkan, itu jadi tanggungjawab sekolah, dia masuk baik-baik saja kok. Kalau terpaksa mengeluarkan maka sekolah punya kewajiban mencarikan sekolah lain, kalau dia kesulitan ya menyampaikan ke dinas,” ucapnya.

Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pencegahan BNNP DIY Suharyono menambahkan prevalensi pelajar pengguna narkoba di DIY tergolong tinggi terutama untuk kategori coba pakai. Hasil identifikasi dan penelitian dari 100 pelajar di DIY sebanyak 2,8% di antaranya terindikasi setahun terakhir pernah menggunakan narkoba.

“Kategori coba pakai ini sangat mengkhawatirkan, karena banyak pelajar mahasiswa kos, lalu asrama tanpa induk semang, tempat untuk mereka nongkrong juga memungkinkan,” ujarnya.