Pengolahan Darah di PMI Sleman Masih Gunakan Teknologi Konvensional

Petugas PMI Sleman memeriksa pendonor yang hendak mendonorkan darahnya di RSU Mitra Paramedika, Jumat (2/11/2018). - Ist
20 September 2019 07:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Tahun ini, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman menggandeng RSUP Sardjito melakukan pemeriksaan sampel darah untuk menguji kualitasnya.

Ketua PMI Sleman Sunartono, mengatakan pengujian dilakukan terhadap whole blood (darah segar) maupun komponen darah yang terdiri dari beberapa parameter seperti sel darah merah, trombosit, plasma darah, dan leukosit.

Sunartono mengatakan, keseluruhan hasilnya dinilai layak dan memenuhi ketentuan sesuai yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 91 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Tranfusi Darah.

Kerjasama dengan RS Sardjito, lanjut Sunartono, guna menguji kualitas darah baru kali ini dilaksanakan oleh PMI Sleman. Pemeriksaan serupa pernah dilakukan dua tahun lalu oleh PMI Pusat dan hasilnya juga dinyatakan baik.

"Darah harus selalu dikontrol kualitasnya. Kantong darah bisa diberikan kepada pasien jika aman dari penyakit, dan reaksi samping," terang Sunartono, baru-baru ini.

Adapun, pengujian quality control tersebut dilakukan dengan metode sampling dari berbagai tingkatan umur darah. Masing-masing darah usia muda yang berumur kurang dari 6 jam, tengahan satu minggu, dan tua diatas satu minggu.

Sebagai informasi, permohonan tranfusi komponen darah dari masyarakat selama ini cukup tinggi. Permintaan paling banyak adalah sel darah merah disusul darah segar, dan komponen trombosit serta plasma.

"Kami sudah bisa menyediakan kebutuhan komponen darah tapi perlu pengolahan dulu," jelas Sunartono.

Sementara itu, terkait dengan pengolahan darah, pihaknya masih menggunakan teknologi konvensional. PMI Sleman belum memiliki mesin apheresis yang dilengkapi teknologi pengambilan komponen darah sesuai kebutuhan.

"Kami belum programkan apheresis karena anggarannya mahal. Sekali donor butuh biaya sekitar Rp3,6 juta. Bagi pendonor juga bisa menimbulkan rasa kurang nyaman karena waktu yang diperlukan paling cepat dua jam untuk mengambil darah," bebernya.

Sedangkan untuk teknologi konvensional, lanjut Sunartono, kendati harus ada pengolahan terlebih dulu namun biayanya relatif murah, dan pendonor tidak perlu menunggu lama.

Sebelumnya, Ketua PMI DIY GBPH Prabukusumo mengapresiasi Pemda Kabupaten Sleman karena telah mengalokasikan sebagian dana APBD nya untuk mengganti biaya pengolahan darah.

Sehingga masyarakat Sleman yang membutuhkan darah dapat memperoleh darah secara gratis dari PMI Sleman.

“Perhatian khusus Pemkab Sleman ini sangat baik, saya harap ini bisa jadi contoh untuk daerah lainya,” tutupnya.