Awan Panas Meluncur, Tanda Produksi Magma Gunung Merapi Terus Meningkat

Gunung Merapi mengeluarkan awan panas dan lava pijar pada Senin (18/2/2019) pagi. Kondisi tersebut terpantau dari daerah Bimomartani, Ngemplak, Sleman. - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
23 September 2019 22:27 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Produksi magma di Gunung Merapi masih terus berlangsung. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memperkirakan awan panas letusan (APL) pada Minggu (22/9/2019), masih berpotensi terjadi lagi.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan terjadinya APL kemungkinan disebabkan dua faktor. Selain adanya tekanan gas dari produksi magma yang masih terjadi, kemungkinan kedua dikarenakan akibat suplai magma yang terus berproduksi dan meningkat secara dratis.

"Adanya tekanan gas dari produksi magma yang terus berproses, kemudian rekah-rekahan di kubah Merapi tertutup. Saat terjadi peningkatan tekanan, rekahan tersebut berubah fungsi menjadi katup,” katanya di kantor BPPTKG, Senin (23/9/2019).

Suplai magma yang terus berproduksi dan meningkat secara dratis, katanya, terekam dari beberapa gempa internal yang cukup intensif. Gempa itu muncul dalam tiga bulan terakhir atau sebelum APL terjadi. Intensitas gempa-gempa internal, seperti gempa gempa vulkanik dalam (VTA), gempa vulkanik dangkal (VTB), dan multiphase (MP) meningkat.

Berdasarkan data BPPTKG juga, satu jam sebelum terjadi API, volume gas dan suplai magma mengalami peningkatan. Hal ini teramati dari naiknya suhu di beberapa titik kubah yang mencapai 100 derajat Celsius. "Peningkatan suplai magma ini menyebabkan peningkatan gas. Proses APL terjadi tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi, karena berlangsung sangat cepat," katanya.

Agus menyatakan pihaknya memperkirakan APL akan tetap terjadi. BPPTKG memperkirakan dari APL yang terjadi Minggu kemarin, Merapi mengeluarkan material sebanyak 50.000 meter kubik. Jika dibandingkan dengan volume kubah lava yang teramati terakhir pada 19 September yakni 468.000 meter kubik, maka volume di kubah dipastikan meningkat.

“Status Gunung Merapi masih tetap waspada dengan jarak aman beraktivitas sejauh 3 kilometer dari puncak. Karena APL akan berulang, entah kapan, kita juga telah memperingatkan dan meminta penerbangan untuk mewaspadai,” katanya.

Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida mengatakan APL Gunung Merapi pada Minggu (22/9/2019) siang belum memengaruhi kestabilan kubah lava di puncak gunung api tersebut. Saat ini, kubah lava gunung api itu masih dalam kondisi stabil. "Ini terjadi seiring dengan berlangsungnya suplai magma, gas vulkanik diproduksi secara kontinyu. Karena dinamika tekanan, gas dapat tersumbat dan terakumulasi di bawah kubah lava dan terlepas secara tiba-tiba, mendobrak kubah lava sehingga runtuh menjadi awan panas," papar Hanik.

Ancaman bahaya yang dapat ditimbulkan dari aktivitas erupsi saat ini, masih sama dengan sebelum-sebelumnya yaitu luncuran awan panas dan lontaran material erupsi di dalam radius tiga km dari puncak Merapi. "Hasil pemodelan menunjukkan jika kubah lava saat ini (461.000 m3) runtuh, luncuran awanpanas tidak melebihi radius 3 km," katanya.