Serapan Pupuk Bersubsidi di DIY Tembus 90 Persen
Realisasi penebusan pupuk bersubsidi di DIY disebut mencapai 90% dari total alokasi tahun ini sebesar 75.049 ton.
Bupati Bantul Suharsono (dua kanan) seusai menggunting pita peresmian Taman Kuliner Angkruksari, Desa Donotirto, Kecamatan Kretek, Bantul, Kamis (28/2/2019)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Seluruh pelaku usaha di Bantul diimbau mencantumkan daftar harga semua produk yang mereka jual.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul, Kwintarto Heru Prabowo mengatakan pencantuman daftar harga itu perlu dilakukan untuk memberikan jaminan dan kepastian terhadap konsumen, khususnya wisatawan yang datang ke Bumi Projotamansari.
Imbauan itu, kata dia, merespons masih adanya keluhan wisatawan terkait dengan perbedaan harga makanan antarpedagang satu dan yang lainnya. Bahkan tak jarang wisatawan tersebut merasa harga makanan itu terlalu mahal.
Kwintarto mengatakan pelaku usaha di objek wisata yang ada di Kabupaten Bantul sebenarnya bukan hanya menjadi tanggung jawab Dispar Bantul, namun juga Dinas Perdagangan dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian. "Intinya kami mengimbau kepada para pelaku usaha agar menjadi tuan rumah yang baik, menjadi penyaji yang baik dalam urusan pelayanan produk dan jasa. Harus care terhadap wisatawan," kata Kwintarto, Rabu (25/9/2019).
Dia tak menampik sebenarnya tidak ada standar harga produk terutama makanan yang dijual di objek wisata. Pasalnya makanan memiliki cita rasa tersendiri yang bisa berbeda rasa jika pengolahnya beda. “Kami tak mempersoalkan harga tinggi selama masih sepadan dengan kualitas makanan yang dijual. Jangan sampai harga murah namun kualitasnya tidak bagus,” ujar mantan Camat Sewon itu.
Sukijo, salah satu pelaku wisata asal Gedongan, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, mengamini perlunya mencantumkan daftar harga untuk kepastian wisatawan. Daftar harga tersebut supaya wisatawan tidak perlu lagi bertanya-tanya soal harga sebelum makan.
"Bukan hanya untuk wisatawan luar daerah, kami pun kalau makan di tempat wisata pasti bertanya dulu harganya berapa. Kalau misalnya terlalu mahal bisa enggak jadi beli," kata dia, saat ditemui di Taman Kuliner Karangtalun, Kecamatan Imogiri.
Sukijo mengatakan setiap Minggu pagi, dia bersama teman-temannya dalam Gowes Guyub Gedongan, rutin bersepeda mengunjungi sejumlah objek wisata sekaligus menikmati jajanan di objek wisata tersebut.
Dia sempat kapok makan di salah satu objek wisata di wilayah Imogiri yang tidak mencantumkan harga dan mematok harga makanan terlalu tinggi. Kemudian memilih jajan di Taman Kuliner Karantalun.
Senada, Mitha, warga Sewon, Bantul, bahkan mengaku pernah dua kali membeli makanan yang sama di objek wisata religi di Imogiri, namun harganya berbeda. "Waktu itu saya makan sama teman-teman, harga nasi sayur dan tahu dihitung Rp17.000 per porsi. Tapi ketika saya sendirian makan di warung yang sama denan menu yang sama harganya hanya Rp8.000 satu porsi," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Realisasi penebusan pupuk bersubsidi di DIY disebut mencapai 90% dari total alokasi tahun ini sebesar 75.049 ton.
OpenAI mewajibkan pengguna ChatGPT di Mac memperbarui aplikasi sebelum 12 Juni 2026 usai insiden keamanan siber internal.
Harga BBM naik per 17 Mei 2026. Solar BP-AKR dan Vivo tembus Rp30.890 per liter, Pertamax Turbo dan Dexlite juga naik.
Veda Ega Pratama start dari posisi ke-21 Moto3 Catalunya 2026 usai gagal lolos Q2. Rider Indonesia tetap optimistis memburu rombongan depan.
Kevin Diks mencetak gol spektakuler saat Borussia Monchengladbach menghancurkan Hoffenheim 4-0 di Bundesliga 2025/2026.
CEO Aprilia Racing Massimo Rivola mendoakan Marc Marquez cepat pulih meski Aprilia sedang dominan di MotoGP 2026.