Tak Hanya Belajar Membatik, Siswa SLB Juga Diajak Fashion Show

Sejumlah siswa SLB Krida Mulya Rongkop mengikuti peragaan busana dalam acara memperingati Hari Batik Nasional, Rabu (2/10/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
02 Oktober 2019 21:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cara unik dilakukan siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Krida Mulia, Kecamatan Rongkop, untuk memperingati Hari Batik Nasional, Rabu (2/10/2019). Selain menggelar pelatihan membatik, para siswa juga diajak mengikuti peragaan busana hasil kreasi di sekolah.

Meski memiliki keterbatasan, para siswa tidak canggung untuk mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai. Acara dibuka dengan pentas tari dari salah seorang siswa, selajutnya digelar acara fashion show busana kreasi dari sekolah.

Ada 10 anak dari berbagai jenjang kelas yang mengikuti peragaan. Satu persatu peserta tampil di atas panggung dengan memamerkan pakaian yang digunakan. Di dalam memperingati Hari Batik Nasional tidak hanya menggelar acara peringatan, tetapi juga sebagai ajang meresmikan gedung sentra batik hasil bantuan dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), perusahaan anak cabang milik Kementerian Keuangan. Gedung ini selain sebagai tempat untuk membatik sekaligus berfungsi sebagai galeri.

Guru membatik di SLB Krida Mulya, Wagiyono, mengatakan sekolah yang berdiri sejak 2012 itu mendedikasikan sebagai sekolah berkebutuhan khusus yang mengembangkan keterampilan membatik. Diharapkan dengan keterampilan ini para siswa dapat memiliki keahlian yang bermanfaat untuk bekal belajar mandiri. “Sudah banyak anak-anak yang pandai membatik, bahkan ada beberapa anak yang ikut lomba mendesain batik,” katanya, Rabu.

Menurut dia untuk memberikan pelatihan membatik kepada anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Pasalnya, pelatihan hanya bisa diterima saat siswa memiliki kondisi yang baik. “Kalau tidak semangat, maka pelajaran harus diakhiri. Jika diteruskan juga percuma karena anak-anak tidak bisa fokus,” tuturnya.

Salah seorang siswa SLB Krida Mulya, Fenti Oktaviani, mengaku senang dapat berlatih membatik. Menurut dia meski sedikit mengalami kesulitan khususnya pada saat awal proses pembatikan, hal itu tidak membuatnya patah semangat. “Kalau awal menulis seringkali malam yang dituangkan ke canting meluber sehingga membuat titik noda di sela-sela desain,” katanya seperti diterjemahkan oleh guru penerjemah.

Fenti pun mengaku senang karena bisa berlatih membatik yang menjadi bagian dari pengembangan diri untuk menjadi lebih baik. “Saya tinggal di asrama. Jadi upaya pelatihan bisa dilakukan kapan saja,” katanya.

Direktur PT SMI, Ghozie Indra Dalel, mengatakan pemberian bantuan pembangunan gedung sentra batik di SLB Krida Mulya merupakan bagian dari program corporate social responsibility (CSR) yang dimiliki perusahannya. Selain fasilitas gedung dan alat membatik, para siswa juga diberikan pelatihan turunan membatik seperti cara membuat tas batik. “Agar optimal kami juga memberikan bantuan pelatihan untuk pemasaran secara online,” katanya.