Hasil Panen Jauh dari Harapan, Petani Cabuti Tanaman Tembakau

Seorang petani menjemur daun tembakau Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Rabu (9/10/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
09 Oktober 2019 20:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Petani tembakau di Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, mengeluhkan hasil panen yang tidak sesuai dengan harapan. Selain harga jual yang anjlok, petani juga dipusingkan dengan cuaca ekstrem sehingga tanaman tidak tumbuh dengan maksimal.

Salah seorang petani tembakau di Desa Pampang, Budi Susilo, mengatakan panen tembakau tahun ini tidak terlalu bagus jika dibandingkan dengah hasil panen di 2018. Menurut dia banyk faktor yang membuat panen tidak sesuai harapan.

Dari sisi perkembangan tanaman, cuaca ekstrem sangat berpengaruh karena tembakau menjadi kurang bagus. Meski termasuk tanaman yang biasa ditanam di saat musim kering, akibat suhu udara panas yang berlebihan membuat tanaman tidak bisa berkembang. Selama kemarau petani juga kesulitan mendapatkan air untuk menyiram tanaman. Menurut dia petani tidak berani membeli air dari truk tangki pengangkut air karena ongkos untuk pemeliharaan bisa membengkak

Untuk satu tangki air dibeli seharga Rp90.000 dan hanya mampu mengairi maksimal 1.500 batang tembakau. Padahal, kata Susilo, tanaman tembakau yang dipelihara bisa mencapa 10.000 batang. “Bisa dihitung berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membeli air. Jika tetap nekat petani bisa merugi,” katanya kepada Harian Jogja, Rabu (9/10/2019).

Untuk pemeliharaan petani kesulitan mendapatkan air karena sumur yang dibuat debitnya terus menyusut sehingga tidak dapat untuk menyirami secara keseluruhan. Kondisi ini diperparah dengan hasil yang didapatkan. Meski tidak menyebut angka pasti, namun Susilo memberikan gambaran bahwa idealnya panen bisa dilakukan empat kali. Namun untuk tahun ini banyak petani yang sudah mencabut tanaman tembakau meski baru panen dua kali. “Kami tidak berani menunggu hingga panen empat kali karena biaya untuk pemeliharaan semakin besar. Saat panen kedua kami sekaligus mencabut tanaman,” ujarnya.

Keengganan melanjutkan pemeliharaan juga tidak lepas dari harga tembakau yang anjlok. Untuk tahun ini daun tembakau kering hanya dihargai Rp18.000 per kilogram. Nominal ini jauh lebih kecil dibandingkan tahun lalu yang dihargai Rp30.000 per kilogram. “Daripada merugi mending penanaman diakhiri,” kata Susilo.

Petani lainnya, Rohmat, mengatakan tanaman tembakau menjadi salah satu mata pencaharian warga di desanya saat kemarau. Menurut dia tanaman ini sudah dikembangkan sejak 15 tahun yang lalu. Namun untuk penanaman secara besar-besaran baru dilakukan dalam kurun lima tahun terakhir. “Jadi sudah biasa tanam tembakau saat kemarau,” katanya.