Rektor STIM YKPN: Wisudawan Hadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

Ketua STIM YKPN, Suparmono
11 Oktober 2019 22:17 WIB MediaDigital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIM YKPN) Jogja menggelar wisuda sarjana dan ahli madya semester genap tahun akademik 2018-2019, Sabtu (12/10/2019) ini di Hotel Alana, Sleman.

Pada wisuda semester ini ada beberapa wisudawan yang meraih prestasi terbaik, dari jenjang Diploma III. Nilai tertinggi diraih oleh Nova Pramono Putro dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,50. Sedangkan dari jenjang Strata 1 Program Studi Manajemen, yang lulus dengan predikat Pujian (IPK di atas 3,51) mencapai lima orang. IP tertinggi dicapai oleh Fitri Nur Annisa dengan IPK sebesar 3.89.

Sebelum pelaksanaan wisuda STIM YKPN memberi pembekalan kepada calon wisudawan dengan harapan para lulusan STIM YKPN mampu meraih kesuksesan dalam meniti karier baik saat bekerja atau berwirausaha dengan bekal ilmu serta pengalaman praktik yang sudah didapatkan saat kuliah.

Selain itu lulusan diharapkan memiliki sikap mental positif, kreatif dan inovatif dalam meniti karier saat bekerja maupun berwirausaha.

Ketua STIM YKPN, Suparmono, menyampaikan pada tahun ini, kita dihadapkan pada era Revolusi Industri 4.0, ditandai dengan pemanfaatan teknologi digital yang mendorong automasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Era Revolusi Industri 4.0 mengacu pada bagaimana teknologi seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), teknologi robotik, dan Internet saling memengaruhi kehidupan manusia.

“Bisnis yang berbasis digital berkembang dengan sangat cepat sehingga mengubah cara bekerja dan berbisnis konvensional. Bisnis di bidang financial technology, misalnya peer to peer lending borrowing (P2P), di akhir 2018 bisnis ini bergerak dengan sangat cepat dan menembus batas ruang dan waktu. Kedua pihak bertemu melalui dunia maya (digital) yang semuanya didasarkan pada trust,” kata Suparmono.

Bisnis di bidang lainnya pun tidak dapat lepas dari era digital. Selian Revolusi Industri 4.0, Indonesia juga akan mengalami masa bonus demografi 2030. Jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64% dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. “Saya berpesan betul kepada wisudawan, kita tidak boleh berhenti di titik ini dan harus terus mengembangkan diri agar menjadi pribadi yang selalu kreatif dan inovatif, sehingga pada saat bekerja atau berbisnis dapat terlatih untuk berpikir out of the box dan bekerja dengan prinsip beyond the expectation,” kata dia.

Revolusi industri dan masa Bonus Demografi 2030 ini tentu akan berdampak pada bidang lain juga, termasuk Pendidikan Tinggi. Dalam siaran pers Kemenristekdikti nomor 175 bulan September 2018, pemerintah mendorong Perguruan Tinggi untuk melakukan reorientasi kurikulum dan sistem pembelajaran sehingga mampu menghasilkan lulusan yang trampil, yaitu lulusan yang memiliki literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Kemenristekdikti juga mendorong pendidikan tinggi menerapkan sistem pembelajaran baru, yaitu ‘cyber university’ yang berbasis ‘online learning’ dengan bekerja sama dengan beberapa Perguruan Tinggi dengan memanfaatkan tekonolgi informasi.

Dengan berbekal kemampuan manajerial yang kita miliki, saya yakin bahwa lulusan STIM YKPN Yogyakarta akan mampu survive dalam dunia kerja maupun dunia usaha.

Dalam sistem kuliah berbasis ‘online learning’ atau yang dikenal dengan sistem daring (dalam jaringan) ini, mahasiswa dapat mengambil mata kuliah tertentu pada Perguruan Tinggi lain selama Perguruan Tinggi tersebut memiliki kerjasama dalam jaringan. Perguruan Tinggi juga didorong untuk memiliki kerjasama dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri untuk bidang: pertukaran dosen/mahasiswa, sistem pembelajaran, kerjasama riset, dan kerjasama publikasi internasional.

Untuk menyongsong era kuliah on-line tersebut, konon setiap Perguruan Tinggi harus memiliki syarat-syarat tertentu, yaitu: (1) Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) sudah harus berbasis online, (2) Sumberdaya manusia (khususnya Dosen) yang mumpuni, dan (3) Institusi dan Program Studi sudah terakreditasi.

"Alhamdulillah, STIM YKPN sudah memiliki semuanya. STIM YKPN sudah menerapkan SIAKAD berbasis Cloud setahun yang lalu. Institusi dan Program Studi sudah terkareditasi semua," kata dia.