Puncak Kekeringan, Tanah Retak hingga 1 Meter

Ilustrasi kekeringan - Reuters/Jose Cabezas
14 Oktober 2019 20:32 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bencana kekeringan yang melanda wilayah Gunungkidul berdampak pada lahan pertanian di Kecamatan Semanu. Di Desa Semanu, misalnya, petani kesulitan mengolah lahan lantaran tanah kering dan retak-retak cukup parah.

Berdasar pantauan Harian Jogja, Senin (14/10/2019), di area ladang milik warga, retakan sangat terlihat dengan kedalaman yang beragam, mulai dari 20 sentimeter hingga satu meter dengan lebar retakan mencapai 10 sentimeter. Kayu sepanjang 1,5 meter dimasukkan ke dalam lubang tanah yang retak. Alhasil, kayu masuk hampir seluruhnya.

Salah seorang petani bernama Saikem, 75, mengungkapkan wilayah Desa Candirejo dilanda kekeringan cukup parah. Padahal tahun sebelumnya kekeringan tidak terlalu parah sehingga tanah tak mengalami keretakan dan gampang diolah. "Tanah yang retak saat dibajak sangat sudah karena tanah menjadi sangat keras," ujarnya. Saat ini para petani mulai mengolah lahan meskipun musim hujan belum tiba.

Petani lainnya, Warsana, 47, mengungkapkan akibat kemarau yang melanda, dia tak bisa bercocok tanam karena ketiadaan air irigasi. Selama kemarau, dia membiarkan lahan miliknya tanpa tanaman. Sebagai gantinya, dia harus bekerja serabutan demi menghidupi keluarga. "Tanahnya sulit diolah, jadi saya biarkan seperti ini saja," kata dia.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengungkapkan fenomena tanah retak dan lahan dibiarkan tandus tanpa tanaman saat musim kemarau merupakan hal wajar dan selalu terjadi hampir tiap tahun di Gunungkidul. Menurutnya, sebagia tanah di Gunungkidul, khususnya di Kecamatan Semanu yakni jenis tanah grumusol atau tanah hitam. Jenis tanah seperti itu bakal merekah dalam hingga ke bawah saat musim kemarau.

"Tipe tanah hitam atau grumusol apabila kering pasti retak, dan Kabupaten Gunungkidul rata-rata tipe tanahnya seperti itu," ujarnya.

Menurutnya, saat ini petani mulai mengolah tanah dengan cara mencangkul atau membajak sembari menunggu masa tanam saat hujan datang.